Gejala Prediabetes yang Harus Diketahui

Gejala Prediabetes yang Harus Diketahui

Merupakan kondisi ketika kadar gula dalam darah sudah mencapai atau melebihi batas normal tetapi tidak setinggi pada penderita diabetes tipe 2 dinamakan dengan prediabetes. Jika seseorang tidak segera mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat maka kondisi ini bisa berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Kondisi ini biasanya tidak menimbulkan gejala, hal inilah yang membuat banyak orang berisiko tinggi mengalaminya perlu secara rutin memeriksakan kadar gula darahnya ke dokter. Fungsinya agar kondisi tersebut bisa terdeteksi dan selanjutnya pasien akan mendapat penanganan dari tim medis sedini mungkin sebagai bentuk pencegahan munculnya penyakit berbahaya.

Gejala Prediabetes

Jika dalam keadaan normal, kadar gula dalam tubuh berada di angka 70/90 mg/dL sebelum makan dan di bawah 140 mg/dL setelah mengonsumsi makan. Sementara pada penderita kondisi kelebihan gula darah, kadarnya akan naik hingga mencapai 140/199 mg/dL setelah mengonsumsi makan.

Kondisi ini biasanya tidak menunjukkan gejala tertentu, meski demikian untuk lebih waspada seseorang yang kadar gula darahnya melebihi batas normal harus mengetahui beberapa gejala diabetes tipe 2, berikut beberapa diantaranya.

  • Mudah lelah.
  • Penglihatan menjadi kabur.
  • Sering merasa haus dan lapar.
  • Lebih sering buang air kecil.
  • Luka yang tak kunjung sembuh.

Jika mengalami beberapa gejala di atas, segera lakukan pemeriksaan gula darah secara rutin ke dokter termasuk bagi mereka yang berisiko tinggi mengalaminya. Pemeriksaan sejak dini diperlukan agar penanganan bisa segera diberikan, dampaknya diabetes tipe 2 dapat dicegah.

Penyebab Kadar Gula Darah Berlebih

Glukosa merupakan karbohidrat sederhana yang dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi, sebagian besar glukosa di dalam tubuh didapat dari makanan yang dikonsumsi. Glukosa bisa diolah menjadi energi, sementara tubuh membutuhkan bantuan hormon insulin yang dihasilkan dari pankreas.

Bagi penderita kondisi di atas, proses tersebut terganggu dan gangguan yang muncul disebabkan oleh pankreas tidak banyak menghasilkan insulin atau munculnya resistensi insulin. Akibat yang muncul, glukosa yang seharusnya masuk ke tubuh untuk diolah menjadi energi justru semakin menumpuk di aliran darah.

Apabila hal itu terus berlanjut, maka kadar gula dalam darah akan meningkat, sehingga seseorang yang mengalami peningkatan kadar gula dalam darahnya akan semakin meningkat dan penderita dapat terserang diabetes tipe 2. 

Meski demikian, penyebab di atas belum diketahui secara pasti walau terdapat dugaan jika peningkatan kadar gula darah merupakan penyakit yang diturunkan dari orang tua. Selain itu jarang melakukan aktivitas fisik dan memiliki berat badan berlebih diduga juga memiliki keterkaitan dengan munculnya prediabetes.

Pemeriksaan oleh Dokter

  • Tes Gula Darah Puasa

Tujuan dilakukan tes ini adalah untuk memeriksa kadar gula darah pada saat keadaan perut kosong, pasien terlebih dahulu akan diminta puasa selama delapan am sebelum tes dilakukan. Kadar gula darah pasien bisa dikatakan normal jika masih di bawah 100 mg/dL dan dianggap sudah berlebih jika mencapai 126 mg/dL, ini juga berarti pasien menderita diabetes tipe 2.

  • Tes Toleransi Glukosa Oral (2 Jam PP)

Pasien diminta mengonsumsi minuman gula khusus dan kembali melakukan pemeriksaan gula darah setelah dua jam meminum larutan gula tersebut. Kadar gula dikatakan normal jika kurang dari 140 mg/dL, sementara positif diabetes tipe 2 jika menunjukkan kadar gula 200 mg/dL.

  • Tes Hemoglobin A1c (HbA1c)

Tujuan tes ini dilakukan untuk mengetahui kadar rata-rata gula darah dalam tiga bulan terakhir, tes ini dilakukan dengan mengukur persentase gula darah yang melekat pada hemoglobin yakni protein pembawa oksigen yang terdapat di dalam sel darah merah.

Tak Perlu Cemas, Begini Cara Mengobati Kutu Air

Kutu air merupakan kondisi infeksi jamur yang umum terjadi pada kaki. Ada banyak cara mengobati kutu air yang bisa dilakukan, mulai dari penggunaan krim topikal, semprotan dari apotek, dan lain sebagainya.

Dalam bahasa inggris, kutu air disebut juga sebagai athlete’s foot. Nama ini diberikan karena kutur air sering dialami oleh atlet yang sering menggunakan sepatu dan kaos kaki tertutup, membuat area kaki menjadi panas dan berkeringat.

Keringat yang mengendap terus menerus di kaki adalah pemicu dari infeksi jamur yang menyebabkan kutu air.

Cara mengobati kutu air

Cara mengobati kutu air yang paling umum adalah menggunakan obat yang bisa dibeli secara bebas di apotek. Terkadang, dokter juga akan meresepkan obat khusus untuk pengobatan yag lebih maksimal.

Tapi, sebelum memberikan resep obat, dokter perlu melakukan diagnosa terlebih dahulu. Diagnosa bisa dilakukan dengan menganalisa gejala Anda atau melakukan pengujian di laboratorium melalu sampel kulit Anda.

Bila dokter menganggap kondisi Anda bisa disembuhkan tanpa harus menggunakan resep, Anda bisa membeli obat topikal yang dijual secara bebas di apotek. Beberapa obat antijamur yang dijual bebas meliputi miconazole, terbinafine, clotrimazole, butenafine, dan tolnaftate.

Sementara, obat yang diberikan melalui resep dokter sebagai cara mengobati kutu air terdiri atas:

  • Obat topikal berupa klotrimazol atau obat minum berupa mikonazol
  • Fluconazol dan terbinafine yang diresepkan
  • Obat steroid topikal untuk meredakan peradangan yang menyebabkan rasa sakit
  • Obat minum berupa antibiotik jika kulit yang lecet menyebabkan infeksi bakteri

Baik pengobatan dengan obat bebas maupun obat resep, Anda tetap perlu melakukan perawatan di rumah. Hal ini penting guna memaksimalkan hasil dari cara mengobati kutu air.

Ada beberapa upaya perawatan di rumah yang umumnya direkomendasikan oleh dokter. Salah satunya dengan merendam kaki Anda yang terkena kutu air di larutan air garam.

Selain itu, Anda juga bisa merendam kaki Anda di larutan cuka yang encer. Hal ini bisa membantu untuk mengeringkan lepuh yang timbul sebagai salah satu gejala dari kutu air.

Jangan lupa juga untuk selalu mengeringkan kaki Anda setelah mencucinya. Apabila Anda baru saja menyelesaikan aktivitas di luar ruangan, segera mencuci kaki sampai bersih.

Selama Anda menderita kutu air, penting bagi Anda untuk selalu memperhatikan kondisi kaki. Pastikan kaki Anda tetap kering dan bersih setiap saat.

Upaya pencegahan kutu air

Meski kutu air bisa diobati, akan lebih baik kalau Anda melakukan upaya pencegahan sejak awal agar tidak merasakan gejalanya. Berikut ini beberapa upaya pencegahan yang bisa dilakukan:

  • Kenakan sepatu kets dengan bahan yang bisa memberikan ventilasi di area kaki, misalnya sepatu berbahan jala di bagian atasnya.
  • Gunakan kaus kaki sintetis yang terbuat dari akrilik. Bahan ini menyerap kelembaban dengan baik, sehingga kaki Anda tidak mudah lembab.
  • Cuci dan keringkan kaki setiap hari, khususnya pada bagian sela-sela jari kaki yang sering terlewatkan.
  • Usahakan untuk selalu bertelanjang kaki di rumah.
  • Rutin mengganti kaus kaki bila berkeringat.
  • Simpan sepatu di ruang terbuka atau di tempat yang memungkinkan sepatu untuk terkena udara. Jangan biarkan sepatu berdiam terlalu lama di dalam tas.

Jika Anda rutin melakukan upaya pencegahan, Anda akan terhindari dari gejala kutu air. Dengan begitu, Anda tidak akan perlu menerapkan cara mengobati kutu air untuk kaki Anda.

Napas Berlebihan, Ini Penyebab dan Cara Mengatasi Hiperventilasi

Napas Berlebihan, Ini Penyebab dan Cara Mengatasi Hiperventilasi

Saat diserang rasa panik, seseorang akan mendadak bernapas lebih cepat dan dalam. Napas yang dihembuskan lebih banyak dibanding udara yang dihirup. Kondisi ini disebut hiperventilasi atau napas berlebihan.

Napas berlebihan ini dapat mengganggu kestabilan karbondioksida dalam tubuh. Saat kadar karbondioksida dalam tubuh sedikit, ini akan membuat pembuluh darah menyempit dan darah yang mengalir ke otak akan berkurang. Sehingga orang yang mengalami ini akan merasa pusing, jari kesemutan, dan tingkat kesadaran menjadi menurun.

Gejala Ketika Seseorang Mengalami Hiperventilasi

Selain pernapasan cepat, ada berbagai gejala lain yang dialami oleh penderita. Biasanya gejala napas berlebihan ini akan bertahan antara 20-30 menit. Gejala-gejala tersebut adalah:

  • Merasa pengan, butuh udara tambahan
  • Merasa tertekan, gugup, dan cemas
  • Terkadang, untuk mendapatkan udara Anda perlu duduk terlebih dahulu
  • Sering mendesah dan menguap
  • Detak jantung lebih cepat dan berdebar-debar
  • Merasa kesemutan dan sensasi mati rasa di bagian tangan atau pun kaki
  • Dada terasa sesak dan nyeri
  • Merasa pusing dan lemas seperti ingin pingsan

Ada baiknya jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera periksa ke dokter, Mungkin saja Anda mengalami hiperventilasi atau mungkin saja penyakit lain yang belum terdeteksi.

Penyebab Seseorang Mengalami Hiperventilasi

Napas berlebihan ini terjadi sementara akibat rasa takut, depresi, stres, marah, gangguan kecemasan, maupun karena fobia.

Akan tetapi, ada juga hiperventilasi yang terjadi tanpa penyebab yang jelas. Kondisi ini disebut juga dengan sindrom hiperventilasi.

Kondisi medis ini umumnya dirasakan oleh orang yang berusia 15-55 tahun. Diabnding pria, wanita lebih rentan mengalami kondisi hiperventilasi ini. Apalagi pada wanita hamil.

Adapun penyebab lainnya adalah sebagai berikut:

  • Penggunaan stimulan
  • Terjadinya perdarahan
  • Kehamilan
  • Rasa sakit yang luar biasa
  • Overdosis obat
  • Serangan jantung
  • Terjadi infeksi paru-paru, PPOK, maupun asma
  • Mengalami cedera kepala
  • Mengalami komplikasi gula darah tinggi pada pasien yang mengalami diabetes tipe 1 (ketoasidosis diabetik)
  • Berada di ketinggian 6 ribu kaki atau lebih.

Bagaimana Cara Mengatasi Hiperventilasi?

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah medis napas berlebihan ini. Berikut hal yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

  • Melatih Pernapasan

Ketika Anda mengalami napas cepat, coba untuk bernapas dengan bibir mengerucut. Lalu, tutup lubang hidung kanan, kemudian tarik napas melalui lubang hidung bagian kiri. Keluarkan melalui celah bibir yang mengerucut tersebut. Lakukan dengan menutup hidung sebelah kiri dan ulangi dengan pola yang sama hingga pernapasan Anda normal kembali.

  • Akupuntur

Akupuntur ini disebut juga cara mengatasi napas berlebih yang efektif. Pengobatan kuno dari China ini bisa mencegah dan mengurangi gangguan pernapasan berlebih ini.

  • Meredakan Stres

Stres termasuk salah satu penyebab terjadinya hiperventilasi. Oleh karenanya, coba untuk mengelola stres dan menredakannya. Lakukan berbagai aktivitas meditasi agar Anda lebih rileks. Jika stres yang dialami sudah parah, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan psikiater untuk mengatasinya.

  • Menggunakan Obat-obatan

Jika kondisi yang dialami sudah parah, maka biasanya dokter akan meresepkan obat untuk mengatasi masalah hiperventilasi ini. Obat yang dimaksud seperti doxepin, alprazolam, atau pun paroxetine.

Namun, perlu diingat bahwa mengatasi hiperventilasi ini harus sesuai dnegan penyebabnya. JIka disebabkan oleh infeksi paru, maka untuk mengatasinya akan diresepkan obat oleh dokter untuk mengatasi infeksinya. Selain itu, setiap gejala napas berlebih ini muncul, pastikan untuk tetap tenang sambil melakukan latihan pernapasan.

Perlunya Mengenal dan Mewaspadai Berbagai Penyakit Keturunan

Perlunya Mengenal dan Mewaspadai Berbagai Penyakit Keturunan

Semua orang tentu mengusahakan agar dirinya senantiasa selalu sehat. Sayangnya, terdapat beberapa penyakit yang sulit dihindari atau dicegah karena tergolong sebagai penyakit keturunan. Penyakit lainnya yang bukan keturunan disebabkan faktor eksternal seperti virus, bakteri, pola hidup, kecelakaan dan lain sebagainya. Sedangkan penyakit keturunan merupakan mutasi genetik yang diturunkan dari orang tua pada anaknya.

Beberapa jenis penyakit keturunan

Penyakit keturunan terbagi menjadi banyak jenis. Berikut ini akan dijelaskan tentang beberapa jenis penyakit keturunan yang umum dialami banyak orang.

  • Hemofilia

Penyakit keturunan yang pertama adalah hemofilia. Penyakit keturunan ini lebih sering menyerang laki-laki daripada perempuan. Hemofilia merupakan penyakit berupa gangguan pembekan darah, sehingga ketika terjadi luka maka pendarahannya akan sulit berhenti.

  • Thalasemia

Thalasemia merupakan berkurangnya hemoglobin dalam sel darah merah seeorang sehingga oksigen sulit didistribusikan ke seluruh tubuh. Pada kasus parah, bayi dengan kondisi thalasemia tidak dapat bertahan hidup setelah dilahirkan. Akan tetapi, harapan hidup penderita thalasemia tetap ada. Seseorang yang mengalami thalasemia umumnya perlu transfusi darah untuk bertahan sebab seringkali terserang anemia.

  • Diabetes tipe 1

Penyakit keturunan lainnya yaitu diabetes tipe 1. Biasanya penyakit ini telah terdeteksi sejak usia dini dan risiko kemunculannya pada anak lebih tinggi apabila kedua orang tua kandung juga menderita penyakit tersebut. Penderita diabetes tipe 1 akan kekurangan hormon insulin dan membutuhkan perawatan khusus.

  • Asma atopik

Asma adalah penyakit kronis pada saluran pernapasan karena adanya peradangan atau penyempitan. Asma atopik merupakan jenis penyakit keturunan yang disebabkan karena alergi. Asma atopik ini lebih dominan terjadi dan diturunkan dari gen garis perempuan atau ibu. Penderita asma biasanya akan terbantu dengan alat bantu napas berupa inhaler atau obat tertentu dari dokter.

  • Alzhemeir

Gangguan otak berupa alzhemeir merupakan penyakit keturunan dan umumnya baru mulai terasa saat usia 60 tahun. Seseorang yang terserang alzhemeir bisa mengalami pikun dan menghambat kegiatan sehari-hari. Meski pada umumnya orang yang terkena alzhemeir berusia lanjut, namun tidak menutup kemungkinan alzhemeir dialami ketika seseorang masih berusia muda.

  • Gangguan mental

Penyakit keturunan terakhir adalah gangguan mental. Beberapa jenis gangguan mental dapat dikategorikan sebagai penyakit keturunan seperti down syndrome, ADHD, skizofrenia, OCD, autisme, dan bipolar. Meski begitu, gangguan mental juga dapat dialami oleh seseorang akibat faktor tertentu terutama tekanan secara psikologis. Hanya saja, jika terdapat riwayat penyakit keturunan gangguan mental maka risiko terkena pun menjadi meningkat.

Hal yang dapat dilakukan

Penyakit keturunan memang sulit dihindari sebab berhubungan dengan genetika. Oleh karena itu, sebaiknya Anda dan pasangan melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh sebelum menikah. Sebelum merencanakan kehamilan, Anda pun sebaiknya melakukan pemeriksaan genetik sehingga dapat mendeteksi tentang kemungkinan adanya penyakit keturunan. Selain itu, waspadai apabila terdapat anggota keluarga sedarah yang memiliki riwayat penyakit keturunan sebab tetap dapat memunculkan risiko anak Anda nantinya mengalami hal yang sama.

Penyakit keturunan berbeda dengan penyakit lain yang disebabkan oleh faktor eksternal. Penyakit keturunan merupakan salah satu yang sulit dihindari sebab berhubungan dengan garis keluarga sedarah. Oleh karena itu, pasien yang menderita penyakit keturunan perlu menerima dan menyadari kondisinya sejak awal. Peran keluarga juga penting guna memberi dukungan dan semangat sehingga pasien dapat menjalani setiap proses pengobatan. Apabila Anda membutuhkan informasi tambahan seputar penyakit keturunan, Anda dapat berkonsultasi melalui aplikasi SehatQ dengan dokter handl dan terpercaya.

Dada Terasa Sesak, Waspadai Terkena Penyakit Emfisema

Dada Terasa Sesak, Waspadai Terkena Penyakit Emfisema

Dada yang sering terasa sesak bisa menjadi indikator Anda terkena penyakit emfisema. Apakah itu? Penyakit emfisema adalah kerusakan kantong udara pa paru-paru sehingga kadar oksigen yang mencapai aliran darah menurun. Penyakit emfisema digolongkan pada penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Meski perkembangan penyakit emfisema dapat dihambat dengan berbagai cara, namun paru-paru yang terlanjur rusak tidak dapat dikembalikan seperti ketika masih sehat. Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai seluk beluk penyakit emfisema yang perlu Anda ketahui.

Penyebab penyakit emfisema

Penyakit emfisema dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Penyebab penyakit emfisema di antaranya paparan asap rokok, substansi kimia, polusi udara, serta paparan debu (produk kayu, tambang, dan katun). Penyakit emfisema akan terjadi jika seseorang mengalami berbagai paparan tersebut dalam jangka panjang.

Gejala yang muncul

Orang yang mengidap emfisema bisa tidak menunjukkan gejala apa pun. Meski demikian, semakin lama seseorang mengindap penyakit emfisema tentu akan menunjukkan gejalanya sebab terhambatnya pertukaran udara pada tubuh. Beberapa gejala yang muncul pada penyakit emfisema yaitu:

  1. Dada terasa sesak
  2. Batuk berdahak
  3. Kesulitan bernapas terutama ketika beraktivitas
  4. Bibir berwarna kebiruan
  5. Suara napas terdengar nyaring
  6. Sakit kepala umumnya terjadi di pagi hari
  7. Tidak waspada secara mental

Jika penyakit emfisema yang diderita sudah cukup parah, gejala tambahan akan muncul menyertai gejala yang telah disebutkan di atas. Berikut ini merupakan beberapa gejala yang akan muncul saat kondisi sudah parah.

  1. Pembengkakan pada tangan dan kaki
  2. Infeksi pernapasan
  3. Lemah otot
  4. Penurunan berat badan
  5. Kesulitan tidur
  6. Cemas berlebih
  7. Depresi

Cara mengobati penyakit emfisema

Untuk mengobati penyakit emfisema, beberapa cara dapat dilakukan termasuk menggunakan obat-obatan, menjalani terapi, dan melalui operasi. Berikut penjelasan lengkapnya.

  • Pemberian obat

Penyakit emfisema dapat diatasi dengan pemberian obat yaitu inhalasi bronkodilator. Obat ini berfungsi untuk membuat saluran udara di paru-paru menjadi terbuka. Efeknya adalah meredanya berbagai gejala dan paru-paru menjadi lebih rileks. Pemberian obat harus disertai oleh resep dokter sebab dosisnya dapat berbeda tergantung kondisi pasien.

  • Terapi pendukung

Selain pemberian obat, terdapat cara lain untuk mengobati penyakit emfisema berupa terapi oksigen. Cara ini digunakan pada penderita emfisema yang kondisinya memburuk karena fungsi pernapasan semakin turun. Terapi oksigen berfungsi untuk membantu memberikan suplai oksigen ke paru-paru. Dari paru-paru, nantinya oksigen tersebut akan dialirkan pada seluruh tubuh. Pemberian terapi oksigen dilakukan pada malam hari selama 24 jam atau 12 jam tergantung kondisi pasien.  

  • Prosedur operasi

Cara terakhir untuk mengobati penyakit emfisema adalah melalui prosedur operasi pengangkatan jaringan. Jika penyakit emfisema yang diderita sangat parah maka perlu tindakan berupa pengangkatan jaringan paru-paru yang bermasalah. Jika tidak diangkat, jaringan yang bermasalah tersebut dapat membebani kinerja tubuh dan berefek pada peningkatan fungsi diafragma dan paru-paru. Selain operasi pengangkatan jaringan, terdapat opsi lain berupa transplantasi paru-paru yang disertai dengan konsumsi obat seumur hidup.

Penyakit emfisema dalam jangka panjang terutama yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi. Untuk memastikan seseorang terkena emfisema diperlukan serangkain tes. Dokter dapat melakukan diagnosis setelah melalui anamnesis, cek riwayat medis, dan CT scan atau X-ray. Anda dapat mengetahui berbagai hal mengenai pennyakit emfisema lebih lanjut melalui sesi konsultasi dengan dokter melalui aplikasi SehatQ.

Pahami Kondisi Gangguan Keseimbangan Asam Basa

Gangguan keseimbangan asam basa adalah perubahan patologis pada tekanan parsial karbondioksida (Pco2) atau bikarbonat serum (HCO3-) yang biasanya menghasilkan nilai pH arteri yang abnormal.

Darah Anda membutuhkan keseimbangan yang tepat antara senyawa asam dan basa (basa) agar berfungsi dengan baik. Hal ini disebut keseimbangan asam-basa. Ginjal dan paru-paru Anda bekerja untuk menjaga keseimbangan asam-basa. Bahkan sedikit variasi dari kisaran normal dapat berdampak signifikan pada organ vital Anda.

Sifat penting darah adalah derajat keasaman atau alkalinitasnya. Keasaman atau alkalinitas larutan apa pun, termasuk darah, ditunjukkan pada skala pH. Skala pH, berkisar dari 0 (sangat asam) hingga 14 (sangat basa atau basa). Sebuah pH 7.0, di tengah skala ini, adalah netral. Darah biasanya sedikit basa, dengan kisaran pH normal sekitar 7,35 hingga 7,45. Biasanya tubuh mempertahankan pH darah mendekati 7,40.

Seorang dokter mengevaluasi keseimbangan asam-basa seseorang dengan mengukur pH dan kadar karbon dioksida (asam) dan bikarbonat (basa) dalam darah. Gangguan asam basa adalah perubahan patologis pada tekanan parsial karbondioksida (Pco2) atau serum bikarbonat (HCO3-) yang biasanya menghasilkan nilai pH arteri yang abnormal, seperti:

  • Asidemia adalah pH serum <7,35.
  • Alkalemia adalah pH serum> 7,45.
  • Asidosis mengacu pada proses fisiologis yang menyebabkan akumulasi asam atau kehilangan alkali.
  • Alkalosis mengacu pada proses fisiologis yang menyebabkan akumulasi alkali atau kehilangan asam.

Keseimbangan asam-basa darah dikontrol dengan tepat karena bahkan penyimpangan kecil dari kisaran normal dapat sangat mempengaruhi banyak organ. Tubuh Anda menggunakan mekanisme yang berbeda untuk mengontrol keseimbangan asam-basa darah, sehingga mencegah terjadinya gangguan. Mekanisme ini melibatkan:

  1. Paru-paru
  2. Ginjal
  3. Sistem penyangga

Kadar asam dan basa diukur dengan skala pH. Peningkatan keasaman menyebabkan tingkat pH turun. Peningkatan basa menyebabkan tingkat pH meningkat. Ketika kadar asam dalam darah Anda terlalu tinggi, kondisi ini disebut asidosis. Ketika darah Anda terlalu basa, kondisi ini disebut alkalosis.

Asidosis dan alkalosis pernapasan disebabkan oleh masalah dengan paru-paru. Asidosis metabolik dan alkalosis disebabkan oleh masalah pada ginjal. Masing-masing kondisi ini disebabkan oleh penyakit atau kelainan yang mendasari. 

Seorang dokter mengevaluasi adanya gangguan keseimbangan asam-basa Anda dengan mengukur pH dan kadar karbon dioksida (asam) dan bikarbonat (basa) dalam darah. Keasaman darah meningkat bila:

  • Tingkat senyawa asam dalam tubuh meningkat (melalui peningkatan asupan atau produksi, atau penurunan eliminasi)
  • Kadar senyawa basa (basa) dalam tubuh menurun (melalui penurunan asupan atau produksi, atau peningkatan eliminasi)
  • Alkalinitas darah meningkat ketika kadar asam dalam tubuh menurun atau ketika kadar basa meningkat.

Setiap gangguan keseimbangan asam-basa memicu mekanisme kompensasi otomatis yang mendorong pH darah Anda kembali ke normal. Secara umum, sistem pernafasan mengkompensasi gangguan metabolisme sementara mekanisme metabolisme mengkompensasi gangguan pernafasan.

Pada awalnya, mekanisme kompensasi dapat mengembalikan pH mendekati normal. Sehingga, jika pH darah Anda berubah secara signifikan, hal itu berarti kemampuan tubuh untuk mengimbanginya sedang gagal. Dalam kasus tersebut, dokter akan segera mencari dan mengobati penyebab yang mendasari gangguan keseimbangan asam basa.

Mengenal Blefaritis, Penyakit Peradangan Pada Kelopak Mata

Kelopak mata merupakan lipatan kulit yang menutupi mata dan melindunginya dari cidera dan debu. Kelopak mata juga memiliki folikel rambut melengkung dan pendek yang disebut bulu mata pada tepiannya. Folikel rambut tersebut mengandung kelenjar minyak, yang terkadang dapat tersumbat atau iritasi, sehingga menyebababkan gangguan kesehatan kelopak mata. Salah satu gangguan tersebut dikenal dengan nama blefaritis, atau peradangan kelopak mata.

Penyebab dan jenis

Penyebab pasti blefaritis kadang sulit untuk ditentukan. Namun, beberapa faktor yang berbeda dapat meningkatkan risiko Anda terkena blefaritis. Misalnya, Anda memiliki risiko lebih tinggi menderita blefaritis apabila Anda memiliki ketombe di kulit kepala atau alis. Ada pula kemungkinan Anda memiliki reaksi alergi terhadap makeup atau produk kosmetik lain yang Anda oleskan di sekitar daerah mata, memicu terjadinya peradangan kelopak mata. Penyebab atau faktor risiko peradagan kelopak mata lain di antaranya adalah memiliki kutu bulu mata, infeksi bakteri, efek samping obat-obatan, dan kelenjar minyak yang rusak. Ada dua jenis peradangan kelopak mata, yaitu:

  • Peradangan kelopak mata anterior. Yang terjadi di bagian luar mata di mana bulu mata terletak. Ketombe di alis da reaksi alergi pada mata dapat menyebabkan peradangan kelopak mata anterior ini.
  • Peradangan kelopak mata posterior. Yang terjadi di bagian dalam tepi kelopak mata yang dekat dengan mata. Kelanjar minyak yang rusak di belakang folikel bulu mata biasanya menyebabkan peradangan kelopak mata jenis ini.

Gejala dan diagnosa

Peradangan kelopak mata biasanya muda diketahui karena kondisi ini dapat mengiritasi mata dan memengaruhi penglihatan Anda. Gejala blefaritis lain di antaranya adalah kelopak mata yang terasa gatal, kelopak mata yang bengkak, sensasi terbakar di mata, kelopak mata berminyak, sensasi ada sesuatu di dalam mata Anda, mata merah, mata berair, dan sensitivitas terhadap cahaya. Gejala-gejal tersebut juga dapat mengindikasikan adanya infeksi mata yang serius. Anda perlu merawat gejala tersebut sebagai sebuah kegawatdaruratan medis dan mengunjungi dokter segera.

Dokter mata akan mendiagnosa peradagan kelopak mata. Dalam beberapa kasus, pemeriksaan fisik pada bagian mata sudah cukup untuk mendiagnosa blefaritis. Dokter juga dapat memeriksa kondisi kelopak mata dengan alat pembesar khusus. Pemeriksaan mata ini bertujuan untuk memeriksa peradangan serta tanda-tanda bakteri, jamur, serta virus yang dapat mengindikasikan adanya infeksi. Apabila ada gejala atau tanda-tanda infeksi, dokter akan mengambil sampel cairan apapun yang keluar dari mata, untuk kemudian diperiksa di bawah mikroskop.

Perawatan

Mencuci mata Anda dan meletakkan kompres hangat pada kelopak mata dapat mengurangi peradangan. Tergnantung tingkat keparahan peradangan, serta apakah peradangan disebabkan oleh infeksi atau tidak, dokter dapat merekomendasikan perawatan jenis lain, seperti:

  • Perawatan steroid. Apabila Anda tidak memiliki infeksi, dokter dapat meresepkan steroid, obat tetes mata, dan salep untuk mengurangi peradangan. Dokter juga dapat meresepkan obat tetes mata untuk menghentikan iritasi yang disebabkan oleh mata kering.
  • Antibiotik. Beberapa antibiotik juga dapat dengan efektif mengatasi infeksi kelopak mata. Dokter dapat meresepkan antibiotik dalam bentuk pill, salep, dan obat tetes mata. Dokter sering meresepkan obat tetes mata ketika infeksi menyebar melebihi kelopak mata.

Blefaritis dapat menjadi sebuah kondisi yang sangat tidak nyaman dan menyakitkan. Namun sayangnya, ini bukanlah sebuah kondisi yang dapat dicegah. Anda bisa melakukan beberapa hal untuk mengurangi risiko peradangan, seperti dengan mencuci wajah dengan rutin, menghindari menyentuh mata dengan tangan kotor dan jangan menggosok kelopak mata saat gatal.

6 Cara Mencegah Diskinesia pada Penyakit Parkinson

6 Cara Mencegah Diskinesia pada Penyakit Parkinson

Diskinesia merupakan salah satu efek samping dari pengobatan penyakit Parkinson yang sering terjadi. Diskinesia adalah kondisi tubuh Anda yang bergerak secara tidak sengaja dan tidak dapat dikendalikan. Gerakan yang mungkin terjadi adalah menggeliat, bergoyang, atau menggelengkan kepala. Kondisi ini bisa memengaruhi salah satu atau seluruh bagian tubuh Anda. Tingkat keparahannya mulai dari ringan hingga berat dan terasa nyeri, serta mengganggu aktivitas sehari-hari.

Apa yang menyebabkan diskinesia terjadi?

Diduga, penyebab diskinesia pada penyakit parkinson adalah efek samping dari konsumsi obat levodopa yang berkepanjangan. Obat ini merupakan obat yang terkenal efektif untuk pengobatan Parkinson.

Obat levodopa dapat meningkatkan kadar dopamin di otak. Sementara itu, seseorang yang menderita penyakit Parkinson mengalami kekurangan sel-sel otak penghasil dopamin. Masuknya obat levodopa ke dalam tubuh akan menggantikan posisi dopamin pada penderita Parkinson.

Sayangnya, kadar dopamin jadi berubah-ubah. Hal ini dikarenakan jika obat levodopa dikonsumsi, maka kadar dopamin jadi naik. Begitu sebaliknya, kadar dopamin akan turun jika obat tersebut tidak dikonsumsi. Adanya variasi dalam kadar dopamin inilah yang dapat menyebabkan munculnya diskinesia secara tidak disengaja.

Di sisi lain, ada dugaan bahwa zat kimia di otak yang disebut GABA dapat menyebabkan diskinesia. Hal ini dikarenakan GABA yang menjadi sangat sensitif terhdap dopamin. Akibatnya, saat penderita Parkinson mengonsumsi obat levodopa, sel-sel otak akan dibanjiri oleh dopamin. Alhasil, sinyal tersebut akan terbaca oleh GABA dan timbullah diskinesia yang tak terkendali. Namun, faktor penyebab ini masih terus diteliti oleh para ahli kesehatan.

6 Cara mencegah diskinesia pada penyakit Parkinson

Saat Anda mengalami Parkinson, mungkin saja Anda mengalami gerakan secara tiba-tiba, tidak terkendali, dan sering tersentak-sentak. Entah itu terjadi pada wajah, kaki, lengan, atau bagian atas tubuh Anda. Umumnya, diskinesia terjadi setelah beberapa tahun Anda mengonsumsi obat levodopa.

Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah terjadinya diskinesia, yaitu:

  • Perubahan dosis obat levodopa.

Mintalah saran dokter Anda untuk menyesuaikan kembali dosis obat levodopa yang Anda konsumsi jika efek samping diskinesia masih terus terjadi.

  • Alternatif obat lain.

Beberapa jenis obat pengganti levodopa juga bisa Anda konsumsi sesuai dengan saran dan resep dari dokter, yaitu agonis dopamin, penghambat COMT, atau penghambat MAO-B. Ini dapat membantu Anda mencegah atau setidaknya menunda diskinesia. Sayangnya, ada efek samping lain yang mungkin muncul dari obat-obatan tersebut, seperti mual dan berhalusinasi.

  • Hindari stres.

Stres hanya akan membuat kondisi diskinesia semakin memburuk, jadi cobalah untuk tidak stres. Anda bisa mencoba lebih rileks dengan meditasi, yoga, membaca buku, atau curhat dengan teman.

  • Rajin melakukan aktivitas fisik.

Banyak manfaat yang akan Anda peroleh dengan melakukan aktivitas fisik, seperti berjalan, senam aerobik, tai chi, dan menari. Hal ini dapat melatih keseimbangan dan fleksibilitas Anda dalam bergerak. Selain itu, olahraga juga dapat membantu mengontrol diskinesia. Cobalah diskusikan dengan dokter Anda terkait jenis aktivitas fisik atau olahraga yang baik untuk Anda.

  • Jaga pola makan yang sehat.

Diet berperan penting terhadap kondisi kesehatan Anda. Diet yang tidak sehat dapat berdampak pada reaksi obat dan cara kerjanya, sehingga menyebabkan diskinesia. Bagi sebagian orang, protein seperti daging, susu dan produk olahannya, serta kacang-kacangan dapat memperlambat penyerapan obat levodopa di dalam tubuh.

Anda tidak harus mengurangi asupan protein, tapi cobalah minum obat sekitar 30 menit atau lebih sebelum makan, sehingga memberikan waktu untuk obat agar bekerja lebih efektif. Jika Anda tidak dapat mengonsumsi obat dalam perut kosong, cobalah makan camilan terlebih dahulu, seperti biskuit tawar atau minum obat dengan banyak air untuk mencegah mual dan muntah.

  • Stimulasi otak dalam (DBS).

Ini adalah pilihan bagi penderita Parkinson selama 4 tahun atau lebih dan mengonsumsi obat levodopa. Diskinesia masih tetap muncul meskipun obat ini tidak lagi dikonsumsi. Kondisi ini mungkin cukup serius, sehingga dokter akan menyarankan prosedur stimulasi otak dalam (DBS). Caranya dengan meletakkan suatu perangkat kecil yang menghantarkan sinyal listrik ke bagian otak yang berkaitan dengan gejala Parkinson.

Inilah 6 cara mencegah terjadinya diskinesia pada penyakit Parkinson. Perlu juga Anda ingat, agar tidak mengubah dosis obat levodopa sesuka hati untuk menghentikan efek samping diskinesia tanpa sepengetahuan dari dokter langsung. Selalu rutin periksakan kondisi Anda ke dokter dan konsultasikan setiap gejala atau efek samping dari obat-obatan yang mungkin Anda alami.

Atasi Sakit Kepala Sebelah Seketika dengan Obat Migrain Berikut

Apakah Anda sering menderita sakit kepala sebelah yang biasanya ditandai seperti dipukul oleh benda tumpul? Kondisi neurologis yang Anda alami tadi disebut migrain, salah satu jenis sakit kepala. Kasus migrain ringan dapat diatasi dengan mudah dengan minum obat migrain. Namun, dalam kasus tertentu, Anda memerlukan resep obat migrain dan konsultasi dokter.

Jika sakit kepala migrain yang Anda alami tidak begitu parah, cobalah untuk mengonsumsi obat migrain alami yang dapat Anda buat di rumah.

Obat migrain alami yang aman dikonsumsi untuk atasi sakit kepala sebelah

Beberapa bahan alami yang dapat Anda konsumsi sebagai obat migrain, yaitu:

  • Mengoleskan minyak peppermint

Dalam sebuah penelitian yang dirilis pada National Library of Medicine oleh National Center for Biotechnology Information, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa minyak peppermint efektif untuk mengurangi rasa sakit kepala akibat migrain.

Minyak peppermint ini dapat Anda oleskan di area pelipis dan dahi. Efektivitas minyak peppermint didukung oleh kandungan mentol yang juga dapat meredakan gejala migrain yang kambuh.

  • Mengonsumsi air rebusan jahe

Masih dari National Library of Medicine, terdapat sebuah penelitian yang menguatkan manfaat bahwa minum teh seduhan jahe bubuk mampu meredam tingkat keparahan migrain. Jika Anda masih merasa belum cukup, Anda dapat mengonsumsi obat migrain sumatriptan selepas minum air rebusan jahe ini.

  • Memanfaatkan kegunaan minyak lavender

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal European Neurology, aroma minyak lavender dapat mempercepat pemulihan pasien migrain jika dibanding dengan penggunaan placebo atau obat kosong (tanpa zat aktif).

Di samping itu, minyak lavender juga memiliki efek menenangkan dan menyeimbangkan kadar serotonin dalam tubuh. Kondisi ini dapat mencegah stres bertambah parah.

Penggunaan minyak lavender dapat langsung Anda hirup atau dioleskan pada area kulit.

Obat migrain bebas yang dapat dikonsumsi tanpa resep dokter

Jika Anda telah mencoba menggunakan obat migrain alami di atas, namun migrain yang Anda alami juga belum mereda, tidak ada salahnya untuk mencoba mengonsumsi obat migrain yang dijual bebas.

  • Aspirin

Aspirin adalah salah satu obat migrain yang paling populer. Obat migrain ini bekerja dengan menghentikan produksi zat prostaglandin (hormon pemicu peradangan, rasa sakit, demam, pembengkakan, bahkan penggumpalan darah) dalam tubuh.

Dosis konsumsi aspirin bagi orang dewasa berkisar antara 300-650 mg yang dapat dilakukan setiap 4 hingga 6 jam sekali. Jika aspirin dikonsumsi melebihi 4 gram dalam satu hari, obat migrain ini berisiko menimbulkan luka pada lambung dan juga suara berdengung dalam telinga.

  • Paracetamol

Mungkin Anda termasuk salah satu orang yang sering mengandalkan konsumsi paracetamol sebagai obat migrain. Paracetamol memang merupakan salah satu obat migrain yang banyak dikonsumsi.

Dosis konsumsi paracetamol bagi orang dewasa tentu akan berbeda-beda tiap individunya, termasuk berdasarkan bentukan obat itu sendiri. Orang dewasa dapat mengonsumsi paracetamol cair sebagai obat migrain dengan kadar 325-650 mg atau 2 tablet 500 mg untuk 4-6 jam sekali konsumsi.

  • Ibuprofen

Selain sebagai obat nyeri, ibuprofen juga dapat berguna untuk mengobati migrain. Cara kerja ibuprofen yaitu dengan menghalangi enzim siklooksigenase yang menghasilkan hormon prostaglandin.

Dosis yang diperbolehkan untuk mengonsumsi ibuprofen sebagai obat migrain berkisar 200-400 mg untuk setiap 4-6 jam sekali. Konsumsi ibuprofen tidak direkomendasikan untuk ibu hamil, karena dapat membahayakan kesehatan janin.

Dapatkan obat migrain asli dan juga konsultasi dokter dengan mudah di SehatQ.com.

Perhatikan Hal-Hal Ini Sebelum Minum Antibiotik Radang Tenggorokan

Radang tenggorokan merupakan infeksi bakteri yang menyebabkan peradangan atau nyeri pada area tenggorokan. Kondisi ini sangat umum terjadi pada anak-anak dalam rentang usia 5-15 tahun, namun tetap bisa menyerang siapa saja dalam segala kelompok usia. Untuk mengatasi, biasanya pasien dianjurkan untuk mengonsumsi obat antibiotik radang tenggorokan.

Ada banyak jenis antibiotik untuk mengobati radang tenggorokan. Setiap jenis memiliki dosis dan efek samping yang berbeda-beda. Konsumsi antibiotik sebaiknya dilakukan sampai habis, meski radang tenggorokan sudah terasa membaik.

Hal yang harus diperhatikan sebelum minum antibiotik radang tenggorokan

Antibiotik merupakan obat yang bekerja dengan menghancurkan atau memperlambat pertumbuhan bakteri. Obat ini termasuk obat kuat untuk mengatasi berbagai penyakit akibat infeksi bakteri, salah satunya radang tenggorokan.

Sebelum menggunakan antibiotik untuk meredakan radang tenggorokan, sebaiknya Anda memperhatikan hal-hal berikut ini.

  • Resistansi terhadap antibiotik

Menurut para ahli, konsumsi antibiotik yang terlalu sering dapat memicu resistansi atau kekebalan terhadap efek dari antibiotik. Lama-kelamaan, bakteri penyebab infeksi akan berjumlah semakin banyak dan tidak dapat diserang oleh antibiotik.

Karena itu, pemakaian antibiotik terbatas pada resep dokter dan tidak bisa dibeli secara bebas di apotek. Selain itu, antibiotik juga tidak akan langsung diberikan pada penderita radang tenggorokan, melainkan berdasarkan pertimbangan setelah melakukan pengobatan dengan obat radang biasa.

  • Reaksi alergi

Beberapa orang bisa saja memiliki alergi terhadap antibiotik. Jika Anda memiliki alergi terhadap antibiotik, Anda mungkin akan mengalami gejala berupa ruam pada kulit, pembengkakan lidah dan wajah, serta kesulitan bernapas.

Reaksi alergi terhadap antibiotik dapat berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa orang akan langsung merasakan reaksinya setelah mengonsumsi antibiotik, ada juga yang baru mengalaminya setelah beberapa waktu. Secara khusus, Anda harus berhati-hati dalam meminum antibiotik apabila memiliki riwayat alergi dan punya masalah fungsi ginjal.  

  • Interaksi dengan obat lain

Segala jenis antibiotik, termasuk antibiotik radang tenggorokan, merupakan jenis obat keras. Oleh sebab itu, pemakaiannya harus dilakukan dengan berhati-hati dan mempertimbangkan kemungkinan adanya reaksi negatif jika berinteraksi dengan obat lain.

Pengguan antibiotik tidak dianjurkan untuk meminum obat atau menjalani pengobatan herbal tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Dalam beberapa kasus, penggunaan antibiotik dapat menurunkan efektivitas alat kontrasepsi oral atau Pil KB. Akan tetapi, hal ini belum bisa dibuktikan melalui penelitian.

Akan tetapi, dokter mungkin menganjurkan Anda untuk menggunakan kontrasepsi tambahan saat sedang menggunakan antibiotik.

  • Efek samping

Sebagai obat keras, antibiotik memiliki efek samping tertentu yang mungkin bisa muncul setelah penggunaan jangka panjang. Efek samping dari antibiotik biasanya berupa diare, mual, muntah, sakit perut, dan ruam pada kulit.

Pada kondisi yang lebih serius, penggunaan antibiotik yang berlebihan bisa meningkatkan resiko infeksi jamur pada mulut, saluran pencernaan, dan vagina. Beberapa efek samping yang cukup jarang terjadi meliputi sensitivitas terhadap cahaya, terbentuknya batu ginjal, pembekuan darah, serta gangguan masalah pendengaran.

Penderita lansia yang mengonsumsi antibiotik rentan mengalami efek samping berupa peradangan usus yang menyebabkan diare berdarah. Apabila radang usus sudah parah, Anda mungkin harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan darurat.

Sebagai obat pereda radang, antibiotik memiliki kandungan yang cukup keras. Oleh sebab itu, Anda sebaiknya melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakannya.

Setiap jenis antibiotik radang tenggorokan memiliki efek yang berbeda-beda. Dokter akan membantu Anda dalam menentukan jenis antibiotik yang paling tepat untuk kondisi Anda.