Awasi! Cedera Kepala Pada Anak di Rumah

Awasi! Cedera Kepala Pada Anak di Rumah

Pada anak masih kecil tentunya sangat aktif dalam kesehariannya. Nah, ibu-ibu harus hati-hati agar anak-anak tak mengalami cedera kepala akibat sering jatuh, permainan, kecelakaan, dan penyebab lainnya. Hal ini bisa menyebabkan cedera otak. Dengan itu, dokter harus mengetahui diagnosis cedera kepala, beginilah dapat ditentukan untuk menentukan tingkat keparahan cedera kepala pada anak. Hal ini harus diamati dalam jangka panjang pasca cedera kepala karena kondisi ini untuk mendeteksi seberapa sedang dan berat secara dini dan berkelanjutan setiap kelainan perkembangan anak. 

Nah, untuk itu, yuk simak lebih lengkapnya mengenai cedera pada anak di rumah dibawah ini

Penyebab cedera kepala pada anak-anak karena terbentur

Penyebab paling umum dari cedera kepala anak adalah kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh, kecelakaan sepeda, dan olahraga. Pada anak-anak di bawah 1 tahun, cedera kepala yang paling serius terkait dengan kekerasan terhadap anak-anak.

Jenis cedera kepala pada anak-anak

Jenis-jenis cedera kepala pada anak, seperti dilansir situs kesehatan anak-anak, paling sering dalam bentuk luka luar, tetapi mengakibatkan kulit kepala luar, tengkorak, otak atau pembuluh darah. Cedera juga dapat menyebabkan gegar otak, memar, patah tulang, atau perdarahan, serta penjelasan: gegar otak adalah jenis cedera otak traumatis ringan. Hal ini terjadi ketika pukulan di kepala atau cedera lainnya bergerak ke belakang kepala dan punggung dengan banyak kekuatan.

Hal ini menyebabkan perubahan kimia di otak dan kadang-kadang merusak sel-sel otak. Memar terjadi ketika terbentur di kepala akan melukai kulit dan jaringan lunak di bawahnya. Darah pembuluh darah kecil bocor, menyebabkan tanda merah atau ungu pada kulit. Hematoma sering terjadi pada kulit kepala atau di dahi. Cedera kepala yang lebih serius dapat menyebabkan kerusakan pada otak. Fraktur tengkorak adalah patah tulang pada tengkorak kepala.

Tengkorak patah tulang dapat terjadi di berbagai bagian tengkorak. Pendarahan dapat terjadi di dalam dan di bawah kulit kepala di sekitar otak.

Apa saja tanda dan gejala cedera kepala?

Jika seorang anak alami cedera kepala dapat memiliki tanda dan gejala sebagai berikut: 

  • memiliki kulit kepala bengkak: Situasi ini umum karena kulit kepala memiliki banyak pembuluh darah kecil yang bisa melarikan diri. 
  • Sakit kepala: Setengah tentang anak-anak dengan pengalaman sakit kepala cedera kepala. 
  • Kehilangan kesadaran (pingsan): Ini tidak umum. 
  • Muntah sekali atau dua kali: Itu terjadi pada beberapa anak setelah cedera pada kepala.

Lantas, apakah anak-anak yang alami cedera kepala harus dibawa ke dokter?

Menurut dokter anak, dr. Martinus M. Leman, DMH, SP.A, sebagai kota Asosiasi Dokter Anak Indonesia (IDAI), perlu tidaknya anak yang mengalami cedera kepala di bawah ke dokter sangat tergantung pada kondisi yang dialami.

Bila bagian kulit kepala anak alami pendarahan yang cukup banyak ataupun robek, segeralah ke dokter ataupun rumah sakit untuk membersihkan lukanya dan memeriksakan kemungkinan cedera kepala berat. Bahkan, bila kondisi ini didiagnosa oleh dokter cukup parah, biasanya harus melakukan tindakan medis untuk menjahit luka agar bisa menutup dengan sempurna. 

Kapan waktu yang tepat orang tua membawa anaknya ke dokter?

Sebagian orang tua tentunya khawatir akibat anaknya mengalami cedera kepala, untuk itu kapan ya waktu yang tepat orang tua membawa anaknya ke dokternya?

1. Anak usia di bawah 2 tahun

Anak-anak di bawah 2 tahun relatif sulit untuk melakukan test dan memiliki risiko retak yang lebih tinggi. Oleh karena itu, beberapa ahli merekomendasikan untuk lakukan pemeriksaan CT Scan kepala untuk memastikan bahwa tidak ada yang berbahaya, seperti pendarahan di kepala. Jadi, jika anak-anak yang mengalami cedera kepala wajib melakukan CT Scan? Di sini, harus dipertimbangkan sejumlah besar risiko.

Risiko cedera kepala bisa dikatakan saat jatuh tidak tinggi, tidak ada gejala gangguan saraf setelah dan dalam pengamatan dua jam setelah kelainan. Rata-rata risiko ketika kepala terbentur keras, mual dan muntah berulang (3-4 kali), ada gangguan kesadaran kurang dari 1 menit, anak menjadi sulit atau lemah, keberadaan benjolan besar.

Risiko cedera dianggap tinggi ketika diperoleh penurunan kesadaran, anak kecemasan, ada gejala gangguan saraf, tulang diperoleh bahwa tampaknya, kejang, retak atau patah tulang pada kepala, ubun-ubun, benjolan, muntah lebih dari 5 kali atau lebih dari 6 jam, dan kurangnya kesadaran lebih dari 1 menit.

Cedera kepala rendah tidak perlu pemeriksaan CT, tetapi untuk cedera kepala tinggi, dianjurkan untuk memeriksa dengan CT scan. Tentu saja, ini juga merupakan penilaian dari dokter. Ketika memperoleh hematoma / benjolan di kepala sangat dianjurkan untuk kepala CT tanpa kontras.

2. Anak-anak lebih dari 2 tahun

Anak-anak usia ini selalu sulit untuk diperiksa, sehingga perlu pengawasan untuk memastikannya. Pengawasan dapat dilakukan di rumah sakit atau di rumah selama ada orang yang bisa melakukannya. Pengamatan terutama dalam 24 jam pertama, dengan pemantauan tingkat kesadaran, krisis, kelumpuhan, sakit kepala dan muntah berulang. Kontrol pemindaian CT direkomendasikan ketika dilakukan ketika anak-anak tampak tidak sadar, ada perubahan sikap atau kecurigaan yang rusak atau retak di tulang.

Nah, sekarang sudah tahukan cedera kepala pada anak-anak harus dilakukan pemeriksaan ke dokter agar dilihat tingkat keparahannya. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat.

Leher Kaku Sebelah Kanan, Apa Penyebabnya?

Leher berperan menyokong beban berat kepala, dan karena leher fleksibel, leher rentan terhadap cedera dan kondisi yang menyebabkan leher kaku. Khusus leher kaku di bagian sebelah kanan biasanya terjadi karena kelemahan otot akibat kebiasaan postur yang buruk dalam waktu yang lama. 

Leher kaku dan kepala pusing yang tidak tertahankan benarkah selalu menandakan gejala meningitis

Kebiasaan melihat layar komputer seharian sehingga menyebabkan otot leher tegang menjadi aktivitas paling sering yang menyebabkan leher kaku sebelah kanan. Lebih dari itu, apa saja yang dapat menyebabkan leher sebelah kanan terasa kaku dan bagaimana cara mencegah terjadinya leher kaku? 

  • Otot yang menegang

Seperti sudah disinggung sebelumnya, otot yang menegang adalah faktor utama dari kondisi leher kaku. Segala aktivitas yang membuat otot menegang, termasuk berkendara jarak jauh, bisa membuat leher kaku.

  • Salah posisi tidur

Posisi tidur yang salah juga dapat menyebabkan leher sebelah kanan kaku. Hal ini disebabkan penggunaan bantal kepala yang berlapis-lapis yang menyebabkan posisi leher seseorang tidak selaras dengan bagian tubuh lainnya. 

Hal ini bisa terjadi jika kamu memiliki kebiasaan tidur miring ke kanan, tetapi tidak didukung oleh penggunaan bantal yang baik. Kondisi kepala ini tentu akan membuat leher kaku sebelah kanan terjadi.

  • Hentakan tiba-tiba pada area leher

Kondisi ini disebut juga dengan whiplash. Gerakan secara tiba-tiba ini juga bisa menjadi penyebab leher kaku sebelah kanan dapat terjadi. Whiplash atau gerakan tiba-tiba ini merupakan bentuk cedera leher saat kepala tersentak maju, lantas kembali lagi dengan gerakan yang sangat cepat.

Whiplash bisa diakibatkan oleh kegiatan olahraga atau reaksi sederhana seperti bersin. Biasanya jika seseorang bersin dan mengalami whiplash, kondisi ini bisa juga menjadi indikasi bahwa tubuh kekurangan cairan atau dehidrasi.

  • Stres dan rasa cemas yang tinggi

Penyebab leher kaku sebelah kanan juga bisa terjadi karena tingkat stres dan rasa cemas yang tinggi. Tanpa disadari, cemas atau stress bisa menyebabkan otot area bahu dan leher sebelah kanan ikut tegang. 

Untuk itu, cobalah untuk lebih tenang dalam menghadapi sesuatu. Redam suasana hati dengan bermeditasi. Menghirup aromaterapi mungkin dapat membantu otot-otot di leher menjadi lebih tenang. Dengan sendirinya, leher kaku yang dialami akan berangsur menghilang.

Lebih lanjut, untuk meringankan leher kaku sebelah kanan ada beberapa rutinitas dan cara yang dapat dilakukan untuk mencegah leher kaku, yaitu:

  • Jaga postur tubuh tetap stabil saat berdiri atau duduk. Pastikan posisi bahu tegak lurus dengan pinggul dan jangan membungkuk;
  • Rutin melakukan peregangan, khususnya saat kamu sedang melakukan perjalanan jarak jauh atau sering bekerja di depan laptop;
  • Sesuaikan tinggi meja dan kursi agar layar komputer sejajar dengan mata. Pastikan juga lutut berada pada posisi lebih rendah dari pinggul. Jejakkan kaki sempurna di lantai;
  • Batasi waktu menggunakan smartphone agar tidak terlalu lama menunduk. Selain itu, saat menerima panggilan telepon, jangan menjepit telepon atau handphone di antara bahu dan telinga;
  • Jangan merokok, karena kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko munculnya nyeri leher;
  • Tidurlah dalam posisi telentang dengan mengganjal paha dengan bantal kepala. Tujuannya untuk membantu tulang belakang lebih rileks dan lurus;
  • Gunakan bantal kepala yang tidak terlalu tinggi atau terlalu keras;
  • Saat tidur, pastikan kamu tidak menggunakan kasur atau matras yang terlalu empuk. Kasur atau matras yang terlalu empuk bisa mengganggu kesehatan tulang belakang dan leher;
  • Hindari menggunakan tas selempang atau tas yang digendong di salah satu pundak. 

Leher kaku merupakan hal yang sangat dapat mengganggu aktivitas, apalagi jika hanya sebelah saja maka pergerakan leher akan sangat terganggu. Leher kaku sebelah kanan ini ada beberapa penyebabnya seperti yang telah di sebutkan di atas. Untuk menghindari terjadinya leher kaku sebelah kanan maupun kiri kamu dapat melakukan beberapa cara yang sudah dijelaskan. 

Inilah Penyebab Mual dan Pusing

Mual dan pusing bukanlah suatu penyakit, melainkan merupakan suatu gejala adanya penyakit tertentu. Keduanya dapat saling berhubungan atau bahkan berdiri sendiri sebagai penyakit yang berbeda. Makanya terkadang ada obat mual dan pusing yang fungsinya berbeda-beda.

Kepala pusing dan mual setelah berhubungan intim bisa menjadi gejala masalah kesehatan serius

Pusing adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan berbagai sensasi yang dialami, seperti limbung, kehilangan keseimbangan, atau seperti akan pingsan. Banyak orang mengira pusing sama dengan sakit kepala, padahal keduanya sangat berbeda.

Pusing biasanya disertai perasaan lingkungan seperti berputar (vertigo). Sementara itu, sakit kepala pada umumnya tidak diketahui sebabnya. Biasanya, sakit kepala dapat dicetuskan oleh kelelahan, kurang tidur, dan lainnya.

Sementara itu, mual adalah sensasi tidak nyaman pada perut bagian atas yang disertai dorongan untuk muntah. Namun begitu, mual tidak selalu diikuti muntah. Makanya, obat mual dan pusing bisa sangat beragam tergantung dari penyebabnya.

Keluhan pusing yang disertai mual dapat disebabkan banyak hal. Antara lain, gangguan hormonal (seperti kehamilan), mabuk perjalanan, penyakit maag, tekanan darah tinggi atau rendah, kadar gula darah tinggi atau rendah, ataupun vertigo. Simak penjelasannya di bawah ini.

Gangguan Hormonal

Gangguan hormonal, misalnya kehamilan, adalah penyebab pusing disertai mual yang paling sering dialami. Kondisi ini sering terjadi pada ibu yang usia kehamilannya di bawah 20 minggu. Pada dasarnya, kondisi ini dapat berkurang atau menghilang total saat usia kehamilan memasuki 20 minggu, meski tidak semua ibu hamil mengalami ini.

Pusing disertai mual dapat membuat ibu hamil muntah-muntah hebat hingga tidak nafsu makan. Jika asupan nutrisi ibu terganggu, tentu hal ini dapat berbahaya bagi kesehatan ibu dan janin. Karena itu, segera berkonsultasi dengan dokter kandungan jika kamu mengalami gejala mual yang sudah mengganggu.

Mabuk Perjalanan

Mabuk perjalanan disebabkan oleh gangguan pada sistem keseimbangan visual dan sensorik tubuh. Sistem-sistem tersebut mengalami ketidakseimbangan sehingga muncul kondisi yang dinamakan mabuk darat.

Penyakit Maag

Penyakit maag atau peningkatan asam lambung dapat menimbulkan berbagai keluhan tidak nyaman di perut, seperti nyeri ulu hati, mual, muntah, dan sesak napas. Selain itu, tingginya asam lambung kerap pula menimbulkan pusing.

Tekanan Darah Tidak Normal

Tekanan darah normal adalah 120/80 mm Hg. Di bawah 90/60 mmHg, kamu sudah tergolong mengalami tekanan darah rendah. Adapun di atas 140/00 mm Hg dapat dikatakan tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menyebabkan keluhan pusing, sakit kepala, mual, muntah, pandangan kabur dan penurunan kesadaran.

Kadar Gula Darah Tidak Normal

Kadar gula darah yang tidak normal dapat menyebabkan rasa pusing, sakit kepala, mual, muntah, lemas, pandangan kabur, berdebar-debar, keringat dingin, hingga penurunan kesadaran. Gula darah dikatakan rendah jika nilainya kurang dari 60mg/dL atau 75mg/dL dengan sudah ada keluhan.

Vertigo

Vertigo dikenal sebagai pusing berputar. Saat mengalami vertigo, kamu akan mengalami sensasi diri sendiri atau ruangan sekeliling yang terasa berputar. Vertigo hampir selalu disertai mual ataupun hingga muntah.  Vertigo sendiri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu vertigo sentral akibat adanya gangguan pada saraf otak dan vertigo perifer, yaitu gangguan pada kanalis semisirkularis telinga. Penyebab tersering vertigo adalah vertigo perifer.

Glaukoma

Glaukoma adalah penyakit yang terjadi akibat adanya penekanan berlebih pada saraf mata. Kondisi ini menyebabkan saraf mata rusak, sehingga mengakibatkan keluhan nyeri pada mata yang bahkan bisa menjalar hingga ke kepala. Pada beberapa kasus, glaukoma juga bisa menjadi penyebab pusing dan mual pada orang-orang yang mengalaminya.

Stres dan cemas

Stres dan cemas juga bisa menjadi penyebab pusing dan mual. Ini karena saat kondisi tersebut terjadi, otak akan terus ‘berputar’ untuk memecahkan masalah dan menenangkan perasaan secara bersamaan.

Sebagai akibatnya, fungsi otak akan sedikit terganggu sehingga membuat saraf pusat keliru dalam mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh. Hal ini memicu munculnya perasaan gugup atau panik bersamaan dengan sensasi pusing dan mual.

Demikian penjelasan mengenai penyebab mual dan pusing yang perlu diketahui. Dengan mengetahuinya, kamu tidak asal mengonsumsi obat mual dan pusing sehingga kondisi itu dapat segera teratasi.

Warna Putih di Kuku Mengganggu? Hilangkan dengan Cara Ini

Warna Putih di Kuku Mengganggu? Hilangkan dengan Cara Ini

Kuku sehat biasanya berwarna merah muda dan berkilau. Perubahan warna, garis dan tonjolan, kuku rapuh, atau bercak putih pada kuku bisa menjadi tanda kondisi medis. Namun berbeda dengan warna putih di kuku yang disebut leukonikia. 

Dalam kebanyakan kasus, garis atau bintik putih tersebut terjadi akibat kuku tak sengaja terbentur benda keras. Infeksi jamur kuku juga bisa menyebabkan bercak di seluruh permukaan kuku. 

Tanda putih pada kuku juga bisa menandakan kurang mineral, yang mudah diobati dengan mengonsumsi makanan atau suplemen tertentu. Pada kasus yang jarang terjadi, bercak putih mengindikasikan kondisi kesehatan kronis.

Jenis-jenis leukonikia

Terdapat tiga jenis leukonikia, yaitu:

  1. Leukonikia total

Seluruh permukaan kuku bisa berubah menjadi putih. Biasanya leukonikia jenis ini bersifat genetik (keturunan).

  1. Leukonikia parsial

Pada kondisi ini warna putih tampak pada beberapa bagian kuku. Leukonikia parsial memiliki tiga variasi:

  • Striata: Garis putih horizontal pada kuku dan tampak sejajar dengan pangkal kuku (lunula). Kondisi ini juga disebut dengan Mees ‘Lines atau Transverse Leukonychia.
  • Punctata: Bintik putih kecil pada kuku. Ini merupakan bentuk leukonikia paling umum dan disebut juga sebagai leukonikia sejati.
  • Longitudinal: Garis putih memanjang muncul di bawah lempeng kuku. Jenis ini jarang sekali muncul. 
  1. Leukonikia tampak

Warna putih di kuku disebabkan adanya perubahan pada bantalan kuku, bukan pada lempengannya. Terdapat beberapa variasi leukonikia tampak yaitu kuku Terry, kuku Muehrcke, dan kuku setengah-setengah.

Menghilangkan warna putih pada kuku secara alami

Warna putih di kuku biasanya akan hilang dengan sendirinya. Jika disebabkan oleh faktor lain, seperti infeksi jamur atau kondisi medis, perawatannya akan berbeda tergantung penyebab tersebut. 

Namun sebelum mengunjungi dokter, Anda mungkin ingin mencoba menghilangkan bercak putih di kuku secara alami.

  1. Baking soda

Baking soda merupakan bahan rumahan yang memiliki beragam manfaat. Soda kue memiliki sifat basa yang membantu membunuh bakteri serta menghilangkan bintik putih di kuku akibat cedera pada kuku. 

Anda cukup mencampurkan 8 sdm soda kue, 4 sdm peroksida, 8 sdm cuka, 8 sdm garam, kemudian larutkan dengan 4 gelas air. Setelah semua bahan tercampur rata, oleskan ke kuku Anda yang terdampak. 

Diamkan beberapa menit, lalu oleskan kembali campuran tersebut. Terakhir, Anda bisa menutupnya dengan perban. Lakukan cara ini setiap hari selama minimal 2 minggu. 

  1. Minyak pohon teh

Minyak pohon teh efektif menghilangkan bercak putih di kuku yang disebabkan oleh infeksi jamur. Campurkan 6 tetes minyak pohon teh dengan 15 ml minyak zaitun. Lalu oles ke kuku Anda. Tunggu selama 15 – 20 menit lalu bilas.

  1. Jus lemon

Jus lemon mengandung vitamin C yang berkhasiat sebagai antioksidan. Mengoleskan campuran 1-2 sdt jus lemon dengan sedikit minyak zaitun ke kuku yang terdampak secara rutin bisa membantu menghilangkan bintik putih di kuku. 

Anda juga bisa menggunakan minyak jeruk atau menggosokkan potongan jeruknya langsung ke kuku yang terkena.

  1. Cuka putih

Merendam kuku dengan larutan cuka putih hangat selama 10 menit setiap hari diklaim dapat membantu menghilangkan bercak putih pada kuku dengan cepat.

Catatan

Perlu diingat bahwa cara menghilangkan garis putih di kuku secara alami seperti yang telah disebutkan di atas mungkin tidak efektif bagi beberapa orang. Anda juga bisa mengalami efek samping, seperti gatal atau ruam, yang berarti penggunaan harus dihentikan. Agar lebih aman, konsultasikan ke dokter untuk mengetahui penyebab warna putih di kuku Anda dan mendapat perawatan yang sesuai.

Ketahui Pemicu Alergi Makanan dengan Melakukan Tes Alergi

tes alergi

Apakah Anda mudah terkena alergi setelah mengkonsumsi berbagai makanan pemicu alergi? Jika iya, maka Anda bisa mencoba mengetahui pemicunya dengan melakukan tes alergi

Alergi merupakan reaksi alami sistem imun tubuh yang bereaksi terhadap asupan makanan tertentu. Tidak hanya makanan yang bisa memicu terjadinya alergi, tapi juga debu, serbuk bunga, dan hal-hal lainnya. Jika Anda memang alergi terhadap makanan, maka harus tahu apa pemicunya. Sehingga nantinya bisa dihindari.

Mengenal Tes Alergi

Tes alergi merupakan serangkaian tes yang biasanya dilakukan spesialis dalam menentukan pemicu alergi, khususnya untuk mengetahui substansi apa yang memicu reaksi imun tubuh. 

Tes alergi ini bisa dilakukan dengan tiga cara, yaitu tes darah, tes kulit, hingga makanan pemicu alergi.

Tes kulit darah sering digunakan bersama untuk mendiagnosis alergi. Lagipula, kedua tes ini sifatnya saling melengkapi. Meski begitu, ada pula beberapa kondisi yang membuat tes kulit lebih cocok dibanding tes darah atau sebaliknya.

Tes ini jarang pula memberikan hasil yang negatif palsu. Jika hasil pemeriksaannya negatif, maka ini menandakan Anda tidak mengalami alergi terhadap jenis makanan tertentu.

3 Jenis Tes Alergi

  1. Tes darah 

Tes darah ini dilakukan jika alergi yang dialami sudah benar-benar parah. Tes ini juga menjadi pilihan untuk pasien yang kulitnya sensitif. DItakutkan jika menggunakan tes kulit hasilnya akan keliru.

Tes alergi dengan darah ini dilakukan dengan mengirim sampel darah pasien ke laboratorium, lalu hasilnya akan keluar dalam beberapa hari.

Apabila hasilnya menunjukkan positif, maka antibodi spesifik alergi terdeteksi dalam darah Anda. Ini berarti bahwa seseorang alergi terhadap bahan makanan tertentu. 

Dengan hasil tes darah ini, Anda akan tahu alergi yang sebenarnya dialami. Bahkan, Anda bisa mendeteksi alergi tertentu meskipun belum pernah mengalami reaksi tersebut sebelumnya.

Jika hasilnya negatif, maka kemungkinan besar Anda tidak punya alergi tertentu. Bisa jadi karena sistem imun Anda Tidak merespon alergen yang diujikan. 

Hasil pemeriksaan pun haruslah didefinisikan dengan seksama oleh spesialis alergi agar hasilnya akurat. Biasanya akan dipertimbangkan juga berbagai gejala dan riwayat medis Anda.

  1. Tes kulit (skin test)

Tes kulit juga bisa untuk mengidentifikasi alergen. Biasanya kulit akan dibersihkan terlebih dahulu dengan alkohol, lalu sejumlah alergen akan disuntikkan ke sejumlah lapisan kulit di bagian lengan bawah.

Setelah itu, sekitar 15-20 menit kemudian, akan muncul berbagai reaksi alergi. JIka terjadi gatal atau pembengkakan, maka alergen yang disuntikkan menjadi pemicunya. Begitu pula sebaliknya. 

Ada pula bentuk tes kulit lainnya yaitu patch test dengan memasang patch di kulit. Lalu, akan dilihat reaksi tubuh dalam jangka waktu 48-96 jam setelah dilakukan pemasangan patch tersebut.

  1. Tes eliminasi makanan

Selain tes darah dan kulit, ada pula tes eliminasi makanan yang mengkombinasikan tes kulit dengan tes darah. 

Diet eliminasi ini biasanya akan berlangsung 2-4 minggu lamanya. Selama tes eliminasi makanan ini berlangsung, Anda harus menghindari makanan yang dicurigai menjadi alergen. Jika ada satu atau lebih makanan yang menyebabkan alergi, maka gejala tersebut akan hilang di akhir periode tes.

Alergi yang Paling Umum Muncul

Setidaknya, WHO mencatat ada lebih dari 70 jenis makanan yang menyebabkan alergi. Berikut yang paling umum muncul, yaitu:

  • Susu sapi, biasanya sering terjadi pada 2-3 persen bayi dan juga anak-anak, umumnya bayi yang konsumsi susu sapi sebelum usia 6 bulan.
  • Kacang-kacangan, biasanya yang memicu alergi adalah almond, walnut, pistachio, cashew, dan sebagainya.
  • Telur, merupakan alergi yang juga umum terjadi pada anak-anak, bahkan mencapai 68 persen. Akan tetapi, biasanya alergi ini akan mudah ditoleransi seiring pertumbuhan anak.
  • Seafood, makanan laut mengandung protein tropomyosin yang bisa memicu terjadinya alergi makanan pada seseorang. Makanan laut yang umumnya menyebabkan alergi adalah udang, cumi-cumi, lobster, hingga kerang.
  • Gandum, ternyata gandum dapat memicu sensitivitas tubuh terhadap gluten. Alergi gandum ini bisa diketahui lewat tes alergi yang dilakukan dengan tes kulit. 

Lidah Kuning, Penyakit Apa Itu?

lidah kuning

Lidah kuning merupakan kondisi dimana lidah berubah menjadi kuning karena berbagai penyebab seperti pigmen berwarna yang dihasilkan bakteri, tumbuh dari sel kulit mati pada papila.

Papila merupakan tonjolan kecil yang timbul di permukaan lidah. Jika papila membesar atau lebih panjang, papila akan mengumpulkan sel mati, sisa makanan, dan zat lainnya di area tersebut. Kumpulan di lidah bisa memicu berbagai kondisi, termasuk lidah kuning.

Lidah kuning tidak memicu kondisi yang berbahaya bagi tubuh. Meskipun demikian, pada sebagian kasus, lidah kuning menunjukkan bahwa seseorang mengalami kondisi tertentu seperti gangguan hati.

Gejala

Berikut adalah gejala yang timbul akibat lidah kuning:

  • Warna kuning pada lidah.
  • Benjolan pada lidah.
  • Nafas bau.
  • Tersedak.
  • Sakit tenggorokan.
  • Sensasi terbakar.
  • Demam.
  • Mual.

Jika Anda mengalami gejala yang lebih serius, Anda sebaiknya temui dokter supaya kondisi Anda bisa segera ditangani.

Penyebab

Berikut adalah faktor yang menyebabkan lidah kuning:

  • Lidah berbulu

Lidah berbulu merupakan kondisi dimana lidah memiliki lapisan abnormal yang tampaknya seperti bulu. Pada awalnya, lidah berbulu membuat lidah tampak kuning, namun lidah bisa berubah menjadi hitam.

  • Mulut kering

Mulut kering merupakan kondisi dimana manusia kekurangan air liur di rongga mulut. Air liur memiliki kegunaan dalam membersihkan bakteri dari mulut. Jika manusia kekurangan air liur, bakteri akan tumbuh dan mengeluarkan pigmen kuning di lidah.

  • Kebiasaan bernafas dengan mulut

Kebiasaan bernafas dengan mulut bisa membuat mulut kering sehingga bisa meningkatkan risiko lidah kuning.

  • Kurang menjaga kebersihan mulut

Jika mulut tidak dijaga, maka sel kulit dan bakteri akan tetap menumpuk di papila lidah. Bakteri yang berada di bagian tersebut akan tumbuh dan mengeluarkan pigmen yang bisa membuat lidah kuning.

  • Lidah geografik

Lidah geografik merupakan kondisi dimana papila menghilang dan membentuk bercak yang terlihat seperti pulau. Bercak tersebut tidak hanya membuat lidah merah, namun juga bisa membuat lidah kuning.

  • Penyakit kuning

Penyakit kuning atau jaundice merupakan kondisi yang menyebabkan kekuningan pada kulit dan mata. Kekuningan disebabkan oleh peningkatan kadar bilirubin (pigmen kuning).

  • Obat-obatan

Sebagian obat bisa menimbulkan efek samping yang berbeda pada tubuh, termasuk lidah kuning. Contoh obat yang bisa meningkatkan risiko lidah kuning adalah obat antibiotik, obat pengencer darah, obat kanker, dan obat antipsikotik.

  • Merokok

Merokok merupakan faktor lain yang bisa memicu berbagai masalah pada tubuh, termasuk lidah kuning.

  • Kandidiasis oral

Kandidiasis oral merupakan infeksi jamur Candida yang menimbulkan bercak putih di lidah. Kondisi tersebut bisa membuat lidah kuning.

  • Masalah lambung

Masalah pada lambung seperti gastritis disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori. Bakteri tersebut bisa membuat lidah manusia kuning.

  • Penyakit autoimun

Penyakit autoimun merupakan penyakit yang bisa mengganggu sistem kekebalan tubuh. Penyakit autoimun dapat menyebabkan bakteri tumbuh di lidah dan membuat lidah kuning.

  • Zat-zat

Contoh zat yang bisa membuat lidah kuning adalah mentol dan alkohol.

Pengobatan

Pada umumnya, orang-orang yang mengalami lidah kuning tidak perlu menggunakan obat jika mereka ingin mengatasi kondisi tersebut. Namun, mereka harus menjaga mulut setiap saat. Lidah perlu dibersihkan ketika mereka menggosok gigi.

Pencegahan

Lidah kuning bisa dicegah dengan cara-cara seperti:

  • Mengkonsumsi air putih secara rutin.
  • Tidak merokok.

Kesimpulan

Meskipun lidah kuning tidak membahayakan tubuh, ada berbagai penyebab yang bisa meningkatkan risiko lidah kuning. Oleh karena itu, manusia perlu menjaga mulut setiap saat. Untuk informasi lebih lanjut tentang lidah, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter.

Kaki dan Tangan Kesemutan, Apa Penyebabnya?

tangan kesemutan

Setiap orang mungkin pernah merasakan yang namanya kesemutan. Kesemutan bisa terjadi di bagian tubuh manapun, khususnya di tangan dan kaki. Ketika kaki dan tangan kesemutan, Anda mungkin akan merasakan sensasi mati rasa sekaligus rasa tertusuk.

Umumnya, kesemutan terjadi ketika aliran darah di sekitar lokasi tersebut terhambat. Hal ini sering terjadi saat Anda berada di satu posisi yang sama terlalu lama.

Akan tetapi, kesemutan juga bisa saja terjadi tanpa sebab yang jelas. Jika kesemutan berkepanjangan dan tidak diketahui penyebabnya, mungkin ada kondisi medis khusus yang mendasarinya. 

Apa yang menyebabkan kaki dan tangan kesemutan?

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan kaki dan tangan kesemutan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Diabetes

Diabetes merupakan penyebab kesemutan yang paling umum. Menurut penelitian, sekitar 30 persen dari kasus kesemutan kronis disebabkan oleh diabetes. 

Kesemutan yang disebabkan oleh diabetes seringkali muncul pertama kali pada kedua kaki, kemudian perlahan naik ke tungkai, dan terus sampai ke tangan dan jari-jari tangan. Kesemutan yang seperti ini bisa menjadi gejala pertama yang menandakan bahwa Anda menderita diabetes. 

  • Kekurangan vitamin

Tahukah Anda bahwa kesemutan juga bisa terjadi karena Anda kekurangan vitamin? Secara khusus, kondisi ini dirasakan saat tubuh kekurangan vitamin E, B1, B6, B12, dan niasin. 

Seluruh vitamin tersebut diperlukan untuk memelihara kesehatan saraf. Kekurangan vitamin akan mengganggu fungsi saraf, sehingga memicu pada kesemutan jangka panjang. 

Akan tetapi, perlu diperhatikan, asupan vitamin B6 yang terlalu banyak juga bisa menyebabkan kesemutan. Karena itu, sebaiknya konsumsi vitamin Anda dalam kadar yang wajar, tidak kekurangan namun juga tidak berlebihan.

  • Racun dalam tubuh

Ada beberapa racun yang ketika terpapar ke tubuh bisa menimbulkan dampak berbahaya, termasuk membuat tangan kesemutan. Contohnya seperti logam berupa timbal, arsen, merkuri, talium, dan bahan kimia industri serta lingkungan.

Racun juga bisa meliputi obat-obatan jenis tertentu, khususnya obat kemoterapi yang digunakan untuk mengatasi kanker. Karena itu, penderita kanker yang menjalani kemoterapi lebih rentang mengalami kesemutan parah.

Beberapa jenis antibiotik dan obat antivirus juga bisa menimbulkan efek samping berupa kerusakan saraf yang mengacu pada kesemutan. 

  • Penyakit sistemik

Penyakit yang termasuk sebagai golongan penyakit sistemik adalah gangguan pada ginjal, penyakit hati, kerusakan pembuluh darah dan penyakit darah, gangguan jaringan ikat, ketidakseimbangan hormon, dan lain-lain.

Selain itu, pertumbuhan sel kanker dan tumor jinak juga bisa mempengaruhi saraf dan membuat Anda mengalami tangan kesemutan. 

  • Kecanduan alkohol

Bagi Anda yang gemar mengonsumsi alkohol, hati-hatilah pada kemungkinan untuk mengalami kesemutan jangka panjang. Orang-orang yang kecanduan alkohol cenderung mengalami kekurangan tiamin dan vitamin lainnya, mengakibatkan kerusakan saraf.

Hal ini juga telah dibuktikan melalui sejumlah penelitian. Kebiasaan mengonsumsi alkohol juga membuat Anda memiliki kebiasaan makan yang buruk. Hal ini juga akan menyebabkan gangguan pada saraf karena kurangnya vitamin serta nutrisi penting lainnya.

  • Infeksi

Sejumlah penyakit infeksi serius juga bisa menyebabkan gangguan pada saraf. Kesemutan menjadi salah satu efek samping atau komplikasi yang dirasakan. 

Contohnya adalah infeksi berupa penyakit lyme, herpes zoster, cytomegalovirus, herpes simpleks, HIV, dan AIDS. 

Itulah beberapa kondisi yang bisa menyebabkan kaki dan tangan kesemutan. Pengobatannya dilakukan dengan mengendalikan penyakit yang mendasarinya, barulah kesemutan yang Anda alami bisa membaik.

Parkinsonisme VS Penyakit Parkinson, Ketahui Perbedaan Keduanya

Penyakit Parkinson adalah gangguan fungsi otak (neurodegeneratif) yang disebabkan oleh degenerasi sel saraf di otak yang memproduksi hormon dopamin. Kondisi ini ditandai dengan tremor, badan kaku, dan gangguan gerak lainnya. 

Parkinsonisme bukan merujuk pada pasien penderita penyakit Parkinson. Meski memiliki kata yang hampir mirip, kedua penyakit itu tidak bisa disamakan. 

Apa itu Parkinsonisme?

Parkinsonisme disebut juga dengan Parkinson atipikal atau Parkinson plus, didefinisikan sebagai sindrom klinis, berbeda dengan penyakit Parkinson yang merupakan penyakit neurodegeneratif progresif. 

Penderita parkinsonisme memiliki kemiripan pada beberapa gejala motorik Parkinson, dan disertai dengan indikasi lain. Diketahui Parkinson hanya mewakili 10-15% dari semua kasus parkinsonisme yang didiagnosis.

Ada beberapa jenis parkinsonisme, diantaranya parkinsonisme yang diinduksi obat, parkinsonisme vaskular, dan degenerasi kortikobasal (CBD).

Perbedaan penyebab dan gejala

Penyakit Parkinson disebabkan oleh degenerasi sel saraf otak yang bisa dipicu dengan penuaan, toksin lingkungan, dan riwayat genetika. Kondisi pasien Parkinson akan semakin memburuk seiring waktu. 

Sementara itu parkinsonisme memiliki banyak penyebab, seperti efek samping obat-obatan, trauma kepala kronis, penyakit metabolik, paparan racun, dan penyakit neurologis.

Untuk mendiagnosis penyakit Parkinson, pasien harus menunjukkan minimal dua tipe gejala dari empat gejala utama berikut:

  • Gemetar atau tremor di tangan, lengan, kaki, rahang, atau kepala yang terjadi dalam kondisi istirahat dan berhenti saat bergerak
  • Kekakuan pada lengan, tungkai, atau batang tubuh
  • Bradykinesia atau lambatnya gerakan pada anggota tubuh dan/atau wajah ketika berjalan
  • Terganggunya keseimbangan dan koordinasi, terkadang menyebabkan terjatuh

Gejala lainnya bisa termasuk depresi dan perubahan emosional, sulit menelan, mengunyah, dan berbicara, konstipasi, dan gangguan tidur.

Sedangkan parkinsonisme memiliki beberapa gejala yang telah disebutkan di atas disertai dengan tekanan darah rendah, ketidakmampuan untuk menggerakkan mata ke atas dan ke bawah, hingga demensia. 

Karena gejalanya yang hampir mirip, agak sulit untuk mendiagnosis Parkinson dan parkinsonisme. Diagnosa hanya bisa dilakukan dari gambaran klinis karena hingga saat ini belum ada tes yang efektif untuk mendiagnosis Parkinson dan parkinsonisme. 

Ketika ada pasien dengan gejala Parkinson, dokter akan memperlakukannya seperti pasien Parkinson terlepas dari apakah dia benar-benar menderita penyakit tersebut atau parkinsonisme. 

Kondisi itu sering terjadi pada parkinsonisme ringan. Namun seiring waktu ada beberapa hal yang bisa digunakan untuk membedakan keduanya. Penderita parkinsonisme biasanya tidak mengalami tremor, kedua sisinya terpengaruh secara merata, dan tidak merespon obat Parkinson dengan baik.

Bisakah parkinsonisme disembuhkan?

Belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan parkinsonisme. Perawatan umum untuk Parkinson dan parkinsonisme adalah mengurangi gejala untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Obat-obatan untuk Parkinson, seperti pengobatan dopamin (Levodopa), efektif untuk beberapa bentuk parkinsonisme. Perawatan non-farmakologis lain yang bisa membantu antara lain:

  • Aktif secara fisik, seperti rutin berolahraga yang berfokus pada membangun massa otot, kekuatan, dan kelenturan
  • Menjalani terapi fisik
  • Melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan terapi
  • Terapi bicara
  • Terapi nutrisi
  • Psikoterapi individu dan keluarga
  • Bergabung dengan support group

Karena penderita cenderung hilang keseimbangan, anggota keluarga bisa ikut membantu dengan menciptakan lingkungan yang aman bagi penderita. 

Misalnya, memasang pegangan tangan di sekitar dinding kamar mandi, menghindari meletakkan barang yang bisa menghalangi gerak pasien, menggunakan keset anti-slip, dan letakkan barang-barang yang sering digunakan dalam jangkauan.

Apabila Anda memiliki pertanyaan terkait parkinsonisme dan gangguan medis lainnya, silahkan hubungi dokter di aplikasi kesehatan SehatQ. Download aplikasinya sekarang di App Store atau Google Play Store.

Disseminated Intravascular Coagulation, Kondisi Langka yang Mengancam Jiwa

Disseminated Intravascular Coagulation, Kondisi Langka yang Mengancam Jiwa

Ada banyak sekali kondisi langka yang tanpa disadari bisa mengancam nyawa. Salah satunya adalah Disseminated Intravascular Coagulation atau DIC, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan darah Anda akan menggumpal secara berlebih. 

Kondisi ini khususnya bisa terjadi karena protein yang bertugas untuk mengendalikan pembekuan darah menjadi terlalu aktif. Peningkatan pembekuan darah ini akan menghabiskan trombosit yang diperlukan untuk mengontrol pendarahan. 

Akibatnya, ketika Anda mengalami DIC, Anda akan mengalami pendarahan yang berlebihan. 

Apa yang menyebabkan Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)?

Pada dasarnya, ketika Anda mengalami cedera, protein dalam darah akan bergerak ke lokasi cedera untuk mendukung penggumpalan darah. Hal ini mencegah Anda mengalami pendarahan berlebih, bahkan menghentikan pendarahan pada bagian cedera itu.

Akan tetapi, jika protein ini menjadi terlalu aktif, Anda akan mengalami Disseminated Intravascular Coagulation. Protein yang terlalu aktif ini bisa dipicu oleh beberapa faktor, seperti infeksi, peradangan, dan kanker. Selain itu, ada juga beberapa penyebab yang tidak terlalu umum, seperti:

  • Gigitan ular berbisa
  • Luka bakar
  • Komplikasi selama kehamilan
  • Pankreatitis
  • Suhu tubuh yang sangat rendah atau hipotermia

Saat protein terlalu aktif, pembekuan darah menjadi terlalu berlebih. Darah yang membeku akan membentuk gumpalan yang menyumbat pembuluh darah. 

Karena pembuluh darah tersumbat, suplai darah ke organ-organ tubuh Anda pun menjadi terhambat. Kekurangan aliran darah bisa menyebabkan cedera parah pada organ-organ tersebut, khususnya hati, otak, dan ginjal.

Kemudian, ketika darah membeku, kadar protein yang bisa membekukan darah akan habis perlahan. Jadi, ketika berikutnya Anda mengalami cedera yang mengeluarkan darah, protein itu tidak mampu lagi membekukan darah Anda. 

Akibatnya, Anda malah akan mengalami pendarahan berlebihan di area cedera tersebut. Ini merupakan kondisi medis yang serius, karena ketika pendarahan tak bisa dihentikan, tubuh Anda bisa kehilangan banyak darah. 

Tanda-tanda Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)

Disseminated Intravascular Coagulation bisa terjadi secara tiba-tiba maupun secara perlahan. Keduanya menimbulkan gejala atau tanda-tanda yang berbeda. 

  • Gejala DIC yang tiba-tiba

Apabila DIC terjadi secara tiba-tiba, Anda akan merasakan gejala berupa pendarahan yang sangat parah. Hal ini juga bisa terjadi ketika melakukan operasi atau persalinan, dimana darah yang keluar setelah operasi menjadi tidak terkendali. 

Pendarahan juga bisa terjadi pada area suntikan intravena atau di otak, lalu di saluran pencernaan, di kulit, otot, dan juga rongga-rongga tubuh.

  • Gejala DIC yang perlahan

DIC juga bisa berkembang dengan lambat. Hal ini bisa terjadi pada penderita kanker dan menyebabkan pembekuan di pembuluh darah lebih sering terjadi dibandingkan dengan pendarahan yang terlihat. 

Saat pembekuan terjadi di pembuluh darah dan menyebabkan gumpalan, Anda akan merasakan gejala berupa pembengkakan, kemerahan, dan nyeri di area gumpalan tersebut. Umumnya, penggumpalan ini terjadi di area kaki.

Selain itu, Anda juga mungkin akan mengalami gejala tambahan lainnya, baik ketika menderita DIC yang perlahan maupun yang tiba-tiba. Gejala tambahan itu berupa: 

  • Penurunan tekanan darah
  • Tubuh mudah memar
  • Pendarahan rektal atau vagina
  • Muncul titik merah di permukaan kulit
  • Demam
  • Sesak napas
  • Kebingungan, hilang ingatan, dan perubahan perilaku yang tidak biasa

Tanda-tanda di atas bisa Anda kenali sebagai gejala Disseminated Intravascular Coagulation. Ketika mengalaminya, maka Anda perlu segera mendapatkan pertolongan darurat. Bila dibiarkan, kondisi ini bisa mengancam jiwa.

Berbagai Infeksi yang Disebabkan oleh Bakteri Streptococcus Tipe A dan B

Bakteri Streptococcus

Tahukah Anda mengenai bakteri streptococcus? Jenis bakteri ini merupakan penyebab peradangan dan juga nyeri tenggorokan. Bahkan bakteri ini juga dapat menyebabkan selulitis, pneumonia hingga infeksi telinga.

Infeksi yang Disebabkan Bakteri Streptococcus

Sebenarnya, bakteri ini memiliki beberapa jenis, yaitu A, B, C, dan G. Namun, ada 2 jenis yang paling sering menyebabkan infeksi pada manusia, yakni Streptococcus A dan B.

  1. Streptococcus A

Ada beberapa jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri jenis A ini, yaitu:

  • Demam Scarlet

Demam scarlet ini memiliki gejala awal dengan muncul ruam merah. Penyakit ini biasanya rentan dialami oleh anak yang berusia 5-15 tahun. Demam scarlet ini sebaiknya tidak dibiarkan karena kemungkinan bisa menimbulkan komplikasi pada jantung dan ginjal.

  • Panas Dalam

Memang tidak semua panas dalam (strep throat) adalah karena infeksi bakteri streptococcus. Strep stroat paling rentan dialami oleh anak yang berusia 5-15 tahun. Panas dalam juga bersifat menular, khususnya di sekolah atau daycare dan tempat perkumpulan lain. 

Panas dalam memiliki gejala umum berupa tonsil membengkak, serta muncul bintik putih. Jika strep throat ini tidak kunjung sembuh dan disertai kesulitan bernapas, maka periksakan segera ke dokter.

  • Toxic Shock Syndrome

Penyakit langka toxic shock syndrome ini disebabkan oleh Streptococcus yang masuk ke tubuh. Saat berada di tubuh, bakteri ini mengeluarkan racun berbahaya. Gejala yang muncul biasanya berupa diare, muntah, mual, hingga kulit di tumit dan telapak tangan mengelupas.

  • Impetigo

Penyakit ini menular melalui adanya kontak langsung antara kulit dengan bakteri. Gejala impetigo adalah berupa munculnya ruam merah pada kulit lalu akan menjadi luka terbuka berisi nanah. Biasanya penyakit impetigo terjadi pada anak-anak dan balita.

  • Selulitis

Penyakit ini disebabkan karena bakteri yang menyebar hingga ke dalam kulit sehingga menyebabkan infeksi kulit dan jaringan lunak yang ada di bawahnya. Selulitis ini tidak menular. Orang yang berisiko mengalami infeksi ini adalah orang yang memiliki luka terbuka dan tidak dibersihkan dengan benar. Meski tidak menular, bukan berarti penyakit ini bisa dianggap sepele karena dapat menyebabkan komplikasi yang fatal.

  • Sinusitis

Bakteri streptococcus ini juga menginfeksi rongga kecil di dahi dan tulang pipi. Hal ini akan membuat penderitanya mengalami hidung tersumbat dan terasa nyeri di bagian wajah atau disebut sinusitis.

  • Sepsis

Sepsis juga merupakan infeksi akibat bakteri strep. Sepsis adalah infeksi peredaran darah yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan kerja jantung, napas tersengal, hingga demam.

  1. Streptococcus B

Bakteri streptococcus tipe B ini memang biasa datang dan pergi secara alami di tubuh. Umumnya, bakteri ini tidak berbahaya, namun di sisi lain, bisa menyebabkan penyakit serius pada manusia. 

Ada beberapa penyakit yang disebabkan karena infeksi streptococcus B ini, yaitu:

  • Infeksi pada Orang Dewasa

Orang dewasa yang terinfeksi streptococcus B ini biasanya meningkat bila mereka menderita penyakit yang mengganggu sistem imun seperti infeksi HIV, diabetes, dan juga penyakit liver. Orang yang sudah berusia lanjut di atas 65 tahun juga memiliki peningkatan risiko terinfeksi bakteri Strep B ini.

  • Infeksi pada Bayi yang Baru Lahir

Selain pada orang dewasa, bakteri streptococcus ini juga bisa menginfeksi bayi baru lahir. Komplilkasi yang muncul berupa pneumonia, meningitis, hingga mengalami infeksi aliran darah (bacteremia). Risiko akan lebih meningkat dialami oleh bayi yang lahir prematur atau belum genap berusia 37 minggu.