Gender Dysphoria

Gender dysphoria merupakan kondisi psikologis dimana kondisi tersebut membuat seseorang berpikir bahwa jenis kelaminnya tidak sesuai dengan identitas gendernya. Dengan kata lain, seseorang akan berperilaku sesuai lawan gendernya (secara fisik).

Pemahaman Tentang Gender Dysphoria

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), gender dysphoria merupakan kondisi yang muncul ketika seseorang merasa adanya ketidaknyamanan pada jenis kelamin yang dimiliki, dan mereka cenderung memiliki identitas gender yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya secara biologis.

Pada dasarnya, jenis kelamin dan identitas gender adalah dua hal yang berbeda. Jenis kelamin merupakan perbedaan pada penampilan fisik antara pria dan wanita. Identitas gender merupakan peran sosial dan budaya yang diterapkan baik dari laki-laki maupun perempuan.

Sebagian orang mengalami gender dysphoria sejak lahir. Oleh karena itu, sebagian dari mereka mengubah dirinya menjadi seseorang dengan jenis kelamin yang berbeda. Kondisi seperti ini disebut sebagai transgender.

Seseorang yang mengalami gender dysphoria bukan merupakan gangguan mental. Selain itu, tidak semua transgender mengalami gender dysphoria. Sebagian dari mereka mungkin tidak merasa dibebani karena memiliki identitas gender yang berbeda dengan jenis kelamin biologis.

Gejala Gender Dysphoria

Gender dysphoria dapat dialami manusia sejak lahir. Ketika mereka bermain dengan mainan, mereka tidak suka bermain dengan mainan yang sesuai dengan gendernya, namun cenderung bermain dengan apa yang disukai oleh gender lain.

Berikut adalah gejala-gejala yang dialami anak-anak yang mengalami gender dysphoria:

  • Terus berpikir bahwa mereka adalah perempuan (jika mereka adalah laki-laki) atau laki-laki (jika mereka adalah perempuan).
  • Cenderung memilih mainan atau pakaian sesuai dengan gender lain.
  • Cenderung tidak ingin buang air sesuai dengan jenis kelaminnya secara fisik.
  • Merasa stres dengan perubahan tubuhnya ketika mengalami pubertas.
  • Terus membicarakan tentang ganti jenis kelamin.

Berikut adalah gejala-gejala yang dialami remaja dan orang dewasa yang mengalami gender dysphoria:

  • Merasa bahwa jenis kelaminnya tidak sesuai dengan identitas gendernya.
  • Tidak menyukai alat kelamin yang dimiliki sehingga menolak untuk hal-hal yang melibatkan alat kelaminnya seperti berhubungan secara seksual.
  • Memiliki keinginan yang kuat untuk menghilangkan alat kelamin dan ciri-ciri biologis.

Penyebab Gender Dysphoria

Menurut National Health Service (NHS), seseorang yang mengalami gender dysphoria dipengaruhi oleh kondisi medis yang langka berupa:

  • Hiperplasia adrenal kongenital

Hiperplasia adrenal kongenital bisa terjadi jika kadar hormon di dalam janin perempuan terlalu tinggi. Ketika lahir, anak tersebut merasa dirinya memiliki identitas gender yang berbeda.

  • Interseks

Interseks bisa terjadi jika bayi memiliki perbedaan antara alat kelamin internal dan alat kelamin eksternal.

  • Sindrom ketidakpekaan androgen

Sindrom ketidakpekaan androgen bisa terjadi karena adanya hormon yang tidak bekerja dengan baik di dalam rahim.

  • Hormon tambahan

Hormon tambahan juga merupakan salah satu faktor yang dapat membuat seseorang mengalami gender dysphoria. Hal tersebut terjadi karena seorang ibu mengkonsumsi obat-obatan tertentu selama mengandung.

Cara Mengatasi Masalah Gender Dysphoria

Jika seseorang mengalami gender dysphoria, maka perlu diatasi dengan bantuan psikologis. Penanganan dengan bantuan psikologis bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa tidak nyaman yang terjadi karena ketidaksesuaian antara jenis kelamin dan identitas gender mereka.

Orang-orang yang mengalami gender dysphoria juga mengkonsumsi obat-obat hormon karena merasa kurang percaya diri terhadap penampilannya. Penggunaan obat-obat hormon juga harus berada dalam pengawasan dokter.

Kesimpulan

Gender dysphoria sebenarnya merupakan kondisi yang dialami seseorang dimana mereka mengalami perubahan pada perilaku yang tidak sesuai dengan jenis kelamin biologis. Walaupun tidak sesuai dengan jenis kelamin biologis, mereka tidak mengalami gangguan mental.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *