papaverine

Ini Dia Manfaat dan Efek Samping Obat Papaverin

Rasa mulas dan kram pada perut tentu sangat mengganggu. Tak heran, banyak orang menggunakan obat khusus, seperti obat papaverin untuk mengatasi rasa sakit tersebut. Jika Anda berkonsultasi ke dokter, besar kemungkinan dokter akan merekomendasikan obat tersebut sebagai pertolongan pertama.

Papaverin memang seringkali digunakan untuk mengatasi kram pada area sekitar perut akibat kontraksi pada otot-otot polos dari saluran pencernaan, ureter, maupun saluran kemih. Papaverin juga lazim digunakan untuk mengobati impotensi atau disfungsi ereksi pada pria. Di samping itu, papaverin juga dapat digunakan sebagai vasodilator.

Golongan obat vasodilator adalah obat-obatan yang memiliki fungsi untuk melebarkan pembuluh darah. Cara kerjanya adalah dengan cara mengurangi ketegangan otot-otot polos di sekitar pembuluh darah tersebut. Fungsi ini seringkali dimanfaatkan untuk melebarkan pembuluh darah otak dan pembuluh darah koroner ketika sedang melakukan prosedur medis tertentu, seperti tindakan bedah di sekitar area tersebut.

Bagaimana cara pakai obat papaverin?

Papaverin hanya dapat dikonsumsi oleh orang dewasa. Dikemas dalam bentuk tablet dan juga sediaan suntikan, obat ini membutuhkan resep khusus dari dokter.

Dosis yang dianjurkan untuk dikonsumsi, yaitu tablet tunggal papaverin untuk dewasa sebanyak 100-300 mg yang digunakan sebanyak 3 hingga 5 kali sehari. Sementara itu, untuk sediaan injeksi pada otot dan pembuluh darah, hanya dapat dilakukan oleh dokter maupun tenaga kesehatan. Umumnya, pasien akan diberikan dosis yang paling rendah terlebih dulu ketika baru pertama kali menggunakan obat ini.

Apa saja efek samping obat papaverin yang perlu diperhatikan?

Beberapa efek samping yang telah diketahui dan perlu Anda perhatikan, antara lain:

  • Ereksi yang berlangsung dalam waktu yang lama tanpa adanya rangsangan, fibrosis jaringan penis, dan aritmia jantung.
  • Risiko pusing, kelemahan, bahkan pingsan.
  • Menimbulkan ruam pada kulit, hipertensi, takikardi, dan hipotensi ortostatik.
  • Rasa mual, nyeri perut, menurunnya nafsu makan, sembelit, hingga diare.
  • Risiko terkena sirosis hati.
  • Napas terhenti.

Selain efek samping yang disebutkan, terdapat juga risiko gejala serius yang mungkin terjadi, yaitu hilangnya sensasi dan nyeri pada penis, kesulitan untuk ereksi, keringat dingin, dan juga distorsi ruam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *