Disseminated Intravascular Coagulation, Kondisi Langka yang Mengancam Jiwa

Disseminated Intravascular Coagulation, Kondisi Langka yang Mengancam Jiwa

Ada banyak sekali kondisi langka yang tanpa disadari bisa mengancam nyawa. Salah satunya adalah Disseminated Intravascular Coagulation atau DIC, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan darah Anda akan menggumpal secara berlebih. 

Kondisi ini khususnya bisa terjadi karena protein yang bertugas untuk mengendalikan pembekuan darah menjadi terlalu aktif. Peningkatan pembekuan darah ini akan menghabiskan trombosit yang diperlukan untuk mengontrol pendarahan. 

Akibatnya, ketika Anda mengalami DIC, Anda akan mengalami pendarahan yang berlebihan. 

Apa yang menyebabkan Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)?

Pada dasarnya, ketika Anda mengalami cedera, protein dalam darah akan bergerak ke lokasi cedera untuk mendukung penggumpalan darah. Hal ini mencegah Anda mengalami pendarahan berlebih, bahkan menghentikan pendarahan pada bagian cedera itu.

Akan tetapi, jika protein ini menjadi terlalu aktif, Anda akan mengalami Disseminated Intravascular Coagulation. Protein yang terlalu aktif ini bisa dipicu oleh beberapa faktor, seperti infeksi, peradangan, dan kanker. Selain itu, ada juga beberapa penyebab yang tidak terlalu umum, seperti:

  • Gigitan ular berbisa
  • Luka bakar
  • Komplikasi selama kehamilan
  • Pankreatitis
  • Suhu tubuh yang sangat rendah atau hipotermia

Saat protein terlalu aktif, pembekuan darah menjadi terlalu berlebih. Darah yang membeku akan membentuk gumpalan yang menyumbat pembuluh darah. 

Karena pembuluh darah tersumbat, suplai darah ke organ-organ tubuh Anda pun menjadi terhambat. Kekurangan aliran darah bisa menyebabkan cedera parah pada organ-organ tersebut, khususnya hati, otak, dan ginjal.

Kemudian, ketika darah membeku, kadar protein yang bisa membekukan darah akan habis perlahan. Jadi, ketika berikutnya Anda mengalami cedera yang mengeluarkan darah, protein itu tidak mampu lagi membekukan darah Anda. 

Akibatnya, Anda malah akan mengalami pendarahan berlebihan di area cedera tersebut. Ini merupakan kondisi medis yang serius, karena ketika pendarahan tak bisa dihentikan, tubuh Anda bisa kehilangan banyak darah. 

Tanda-tanda Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)

Disseminated Intravascular Coagulation bisa terjadi secara tiba-tiba maupun secara perlahan. Keduanya menimbulkan gejala atau tanda-tanda yang berbeda. 

  • Gejala DIC yang tiba-tiba

Apabila DIC terjadi secara tiba-tiba, Anda akan merasakan gejala berupa pendarahan yang sangat parah. Hal ini juga bisa terjadi ketika melakukan operasi atau persalinan, dimana darah yang keluar setelah operasi menjadi tidak terkendali. 

Pendarahan juga bisa terjadi pada area suntikan intravena atau di otak, lalu di saluran pencernaan, di kulit, otot, dan juga rongga-rongga tubuh.

  • Gejala DIC yang perlahan

DIC juga bisa berkembang dengan lambat. Hal ini bisa terjadi pada penderita kanker dan menyebabkan pembekuan di pembuluh darah lebih sering terjadi dibandingkan dengan pendarahan yang terlihat. 

Saat pembekuan terjadi di pembuluh darah dan menyebabkan gumpalan, Anda akan merasakan gejala berupa pembengkakan, kemerahan, dan nyeri di area gumpalan tersebut. Umumnya, penggumpalan ini terjadi di area kaki.

Selain itu, Anda juga mungkin akan mengalami gejala tambahan lainnya, baik ketika menderita DIC yang perlahan maupun yang tiba-tiba. Gejala tambahan itu berupa: 

  • Penurunan tekanan darah
  • Tubuh mudah memar
  • Pendarahan rektal atau vagina
  • Muncul titik merah di permukaan kulit
  • Demam
  • Sesak napas
  • Kebingungan, hilang ingatan, dan perubahan perilaku yang tidak biasa

Tanda-tanda di atas bisa Anda kenali sebagai gejala Disseminated Intravascular Coagulation. Ketika mengalaminya, maka Anda perlu segera mendapatkan pertolongan darurat. Bila dibiarkan, kondisi ini bisa mengancam jiwa.

Trombositemia dan Trombositosis: Kadar Trombosit Darah

Trombositemia dan Trombositosis: Kadar Trombosit Darah

Trombositemia dan trombositosis merupakan kondisi yang menimbulkan kadar trombosit lebih rendah atau tinggi dari kadar normal.

Kadar trombosit normal berkisar antara 150.000 hingga 450.000 trombosit per mikroliter. Jika kadar trombosit manusia di bawah 150.000, hal tersebut disebut sebagai trombositemia. Jika kadar trombosit manusia di atas 450.000, hal tersebut disebut sebagai trombositosis.

Trombosit memiliki peran dalam proses pembekuan darah. Jika manusia memiliki kadar trombosit yang berlebihan, mereka bisa berpotensi mengalami penyumbatan pembuluh darah, stroke, dan serangan jantung.

Trombositosis

Trombositosis terdiri dari dua jenis, antara lain trombositosis primer dan trombositosis sekunder. Orang-orang lebih sering mengalami trombositosis sekunder dibandingkan dengan trombositosis primer.

Gejala Trombositosis

Pada awalnya, orang-orang yang mengalami trombositosis tidak menunjukkan gejala apapun. Namun, orang yang mengalami trombosis primer bisa menunjukkan tanda dan gejala yang lebih serius dibandingkan dengan trombositosis sekunder. Tanda dan gejala yang dialami penderita trombositosis dipengaruhi oleh pembekuan darah dan perdarahan. Berikut adalah gejala yang dialami penderita:

  • Merasa lelah.
  • Sakit kepala.
  • Pusing.
  • Sakit pada dada.
  • Kesemutan atau mati rasa pada tangan atau kaki.
  • Perdarahan.

Trombositemia

Seseorang yang mengalami trombositemia (primer) akan mengalami pembekuan darah pada pembuluh darah otak, tangan, dan kaki. Pembekuan darah juga dapat terjadi pada bagian tubuh lain, termasuk organ tubuh seperti usus dan jantung.

Pembekuan darah pada otak menyebabkan sakit kepala dalam waktu yang lama dan pusing. Pada kasus yang lebih serius, masalah tersebut juga dapat menimbulkan stroke. Pembekuan darah pada pembuluh darah kecil tangan dan kaki menyebabkan kemerahan dan mati rasa. Kondisi tersebut juga dapat menimbulkan sensasi terbakar dan sakit berdenyut pada tangan dan kaki.

Ketika seseorang hamil, pembekuan darah pada plasenta menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan janin. Wanita yang mengalami trombositemia (primer atau sekunder) yang mengkonsumsi pil KB dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah.

Pembekuan darah juga dipengaruhi oleh faktor lain berupa usia lanjut, diabetes, tekanan darah tinggi, merokok, dan pernah mengalami penggumpalan darah sebelumnya.

Perdarahan

Perdarahan juga dialami oleh orang-orang yang memiliki jumlah trombosit di atas 1 juta trombosit per mikroliter. Kondisi tersebut terjadi karena pembekuan darah yang terjadi pada trombositemia dan trombositosis yang dapat menghabiskan trombosit di dalam tubuh. Jika jumlah trombosit kurang atau habis, maka luka atau kerusakan pada dinding pembuluh darah tidak bisa ditutup.

Penyebab Trombositemia dan Trombositosis

Trombositosis primer bisa disebabkan oleh kelainan sumsum tulang belakang dimana kondisi tersebut dapat menghasilkan trombosit secara berlebihan.

Trombositosis sekunder disebabkan oleh kondisi medis atau faktor lain seperti:

  • Kekurangan zat besi.
  • Pendarahan.
  • Mengalami infeksi atau bakteri.
  • Kanker.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu.
  • Efek samping pembedahan.

Seseorang yang mengalami trombositemia disebabkan oleh jumlah trombosit yang berlebihan di dalam tubuh. Trombositemia juga sering dikaitkan dengan mutasi pada berbagai gen. Sama seperti trombositosis, kelainan sumsum tulang belakang dapat meningkatkan kadar trombosit. Peningkatan kadar tersebut juga dapat menimbulkan komplikasi berupa pembekuan atau perdarahan yang lebih serius.

Diagnosis Trombositemia dan Trombositosis

Dokter dapat melakukan diagnosis yang meliputi pemeriksaan darah dan pengambilan sampel sumsum tulang belakang pasien.

Cara Mengobati Trombositemia dan Trombositosis

Jika kondisi pasien stabil dan tidak disertai dengan gejala, pasien tidak perlu menggunakan obat-obatan. Namun, jika pasien mengalami ketidakteraturan pada jumlah trombosit, mereka dapat menggunakan obat-obatan seperti anagrelide dan interferon alfa.

Cara Mencegah Trombositemia dan Trombositosis

Pada dasarnya, pasien dapat mengurangi risiko ketidakteraturan trombosit dengan menerapkan pola hidup yang sehat seperti menjaga kadar kolesterol dan tekanan darah.

Kesimpulan

Trombositemia dan trombositosis merupakan kondisi yang menyebabkan ketidakteraturan jumlah trombosit dan perlu diwaspadai, karena dapat menimbulkan berbagai gejala pada tubuh. Meskipun demikian, Anda dapat melakukan cara-cara yang disebutkan di atas untuk mengatasi ketidakteraturan jumlah trombosit. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa tanyakan ke dokter tentang trombositemia dan trombositosis.