Tips Penyembuhan Pasca Operasi Sunat Gemuk

“Efek samping pasca sunat gemuk perlu segera diatasi dengan benar dan cepat. Karena itu, ikutilah tips berikuti ini agar proses penyembuhan sunat gemuk lebih cepat dan hasilnya maksimal.”

Kebanyak anak-anak yang melakukan sunat gemuk mengalami beberapa efek pada penis atau alat kemaluan mereka. Misalnya, penis atau alat kelamin pada anak akan tampak kemerah-merahan hingga memar dan bengkat. Biasanya, diperlukan waktu sekitar sebulan untuk kesembuhan total pada anak-anak pasca sunat gemuk. 

Apabila luka tersebut diatasi dengan benar, anak Anda akan merasa lebih nyaman. Apabila anak tidak menggunakan celana dalam dan mengenakan celana yang longgar, Anda harus bisa menyediakan celana khusus sunat untuk kesehatan alat kemaluan anak Anda. 

Tips pasca operasi sunat gemuk

  • Pastikan kebersihan penis terjaga setelah buang air kecil 

Hal pertama yang harus Anda lakukan setelah melakukan sunat gemuk, yaitu memastikan kebersihan penis si kecil selalu terjaga untuk menghindari infeksi, terutama setelah ia buang air kecil. Pengunakan sabun pembersih sangat dilarang karena dapat mengakibatkan iritasi atau luka yang berlanjut pada bagian penis.

Bersihkan bekas pipis dengan cairan Nacl. Apabila luka terbuka dapat dikompres dengan antiseptik seperti betadin atau cairan sterobac. Anda hanya perlu membersihkan area sekitar penis anak Anda dengan kasa steril atau kain tipis yang bersih. Dengan begitu, kotoran di sekitar daerah penis yang bisa menimbulkan iritasi dari bakteri yang ada akan terangkat. 

  • Hindari penggunaan air yang berlebih

Lindungilah penis si kecil dengan tidak terlalu banyak terkena air. Sebab, hal itu akan membuat penis menjadi tidak kering sehingga lukanya bertahan cukup lama.

Selain itu, ha tersebut juga yang membuat proses penyembuhan cukup lama. Apalagi, metode sunat gemuk yang dipakai di Indonesia adalah metode konvensional yang masih menggunakan sistem jahitan. Apabila anak Anda ingin mandi, basuhlah area penis cukup dengan lap atau handuk yang bersih. 

Pada intinya, luka sunat tersebut tidak boleh kena air. Selain itu, sebaiknya anak Anda janganlah terlalu banyak beraktivitas sehingga tidak perlu menggunakan air dalam membersihkan penis agar terhindar dari kotoran atau pun bakteri. 

  • Gantilah perban serta bersihkan klem setiap hari 

Biasanya, dokter biasanya akan memberikan cairan atau semprotan antiseptik untuk menjaga kesterilan klem. Selanjutnya, agar tidak terjadi infeksi maupun iritasi pada bagian penis, gantilah perban setiap hari. Langkah tersebut berfungsi untuk menjaga kebersihan penis. 

  • Konsumsi Obat Pereda Nyeri dan Antibiotik 

Pasca melakukan sunat gemuk, rasa nyerinya memang sulit untuk dihilangkan. Oleh karena itu, anak Anda juga diperbolehkan mengkonsumsi obat pereda nyeri agar dapat meminimalkan rasa nyeri.

Tak hanya itu, berilah anak Anda minumlah obat antibiotik agar luka pasca sunat gemuk lebih cepat kering dan obat antibiotik ini hanya boleh diresepkan oleh dokter. Di samping hal tersebut juga harus diimbangi dengan beberapa tips yang telah disebutkan sebelumnya. 

  • Kurangi aktivitas berlebih

Pastikan bahwa anak Anda juga tidak melakukan aktivitas berlebihan yang membuat proses penyembuhan penis menjadi lebih lama seperti bermain sepeda. Selain itu, pastikan untuk menarik kulit penis ke belakang arah pangkal yang bertujuan agar resiko kulit tidak tertutup kembali. Sebab, kondisi gemuk memiliki resiko besar untuk tertutup kembali sehingga cara tersebut dapat mengurangi kesempatan kulit menempel kembali seperti semula.

Manfaat yang didapat pascasunat

Terdapat banyak manfaat yang bisa anak Anda dapat pasca sunat gemuk. Sunat dinilai bisa mengurangi risiko tertular beberapa infeksi dan komplikasi terkait, tetapi tidak menjamin perlindungan lengkap. Beberapa kondisi ini

umum, sementara yang lain kurang begitu, dan tingkat risiko individu cenderung bergantung pada perilakunya dan di mana dia tinggal.

Meskipun kekuatan bukti bervariasi menurut penyakit orang tertentu, manfaatnya sunat antara lain sebagai berikut:

  • Lebih mudah untuk menjaga penis tetap bersih.
  • Ada penurunan risiko infeksi saluran kemih di masa kanak-kanak.
  • Sunat mencegah radang kelenjar (balanitis) dan kulup (postitis)
  • Sunat mencegah potensi perkembangan jaringan parut pada kulup, yang dapat menyebabkan phimosis (ketidakmampuan untuk menarik kembali) dan paraphimosis (pembengkakan kulup yang ditarik) sehingga mengakibatkan ketidakmampuan untuk mengembalikan kulup ke posisi normal. 
  • Ada penurunan risiko beberapa infeksi menular seksual (IMS), terutama penyakit ulseratif, seperti chancroid dan sipilis.
  • Ada pengurangan risiko terinfeksi dengan manusia immunodeficiency virus (HIV).
  • Ada penurunan risiko kanker penis.

Sebagaimana yang telah disebutkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan setelah anak Anda melakukan sunat gemuk. Yang pasti,  segera temui dokter Anda apabila ika si kecil mengalami hal-hal yang tidak diinginkan seperti perdarahan yang tidak berhenti serra keluar cairan bernanah atau berbau busuk dari ujung penis. Sebab, penanganan yang cepat bisa meminimalkan risiko yang fatal pasca sunat gemuk. 

Rapid dan Serology Test, Mana yang Lebih Akurat?

Awal masa pandemi, Anda mungkin sering mendengar tentang rapid test sebagai salah satu cara untuk mendeteksi virus Covid-19 dalam tubuh. Tes ini cukup banyak digunakan pada saat itu dan sempat mengalami lonjakan harga yang tinggi. Namun, sebenarnya ada tes lain yang juga bisa menjadi skrining awal sebelum seseorang melakukan tes PCR, yakni serology test atau tes antibodi.

Apa Itu Serology Test?

Serology test atau tes antibodi adalah sebuah tes yang dilakukan untuk mendeteksi antibodi sebagai reaksi sistem imun terhadap antigen yang masuk ke dalam tubuh. Tes ini dilakukan dengan cara mengambil sampel darah pasien yang kemudian akan diproses di laboratorium. Selain bisa menjadi skrining awal virus Covid-19, serology test juga bisa dilakukan untuk mendiagnosis penyakit lain, seperti HIV/AIDS, Hepatitis B dan C, Sifilis, dan lain-lain. Namun, tes ini tidak disarankan untuk mendiagnosis Covid-19. Pasien yang mendapatkan hasil reaktif, tetap harus menjalani tes swab PCR. 

Selain itu, antibodi manusia terdiri dari banyak jenis sehingga terdapat berbagai cara pula untuk mendeteksinya dalam darah, antara lain :

  • Uji aglutinasi, untuk menunjukkan apakah antibodi yang terpapar antigen dapat menyebabkan terjadinya penggumpalan partikel dalam darah.
  • Tes presipitasi, untuk mengukur antigen atau antibodi dalam cairan tubuh
  • Tes western blot, untuk mengidentifikasi adanya antibodi antimikroba dalam darah dengan melihat reaksinya terhadap antigen target. 

Bagaimana Serology Test Dilakukan?

Secara umum, serology test menggunakan sampel darah pasien dengan prosedur sebagai berikut.

  • Dokter atau petugas medis akan membalut lengan atas dengan menggunakan pita elastis ketat yang dikenal sebagai tourniquet
  • Mencari pembuluh vena yang tampak menonjol untuk mempermudah proses pengambilan sampel darah
  • Dokter atau petugas medis akan membersihkan daerah yang akan diambil sampel darahnya dengan menggunakan alkohol agar tidak terjadi infeksi saat penusukan
  • Jarum akan ditusukkan ke pembuluh vena dan tourniquet yang mengikat lengan atas akan dilepas untuk memperlancar aliran darah
  • Setelah mendapatkan volume sampel darah yang dibutuhkan, dokter atau petugas medis akan mengirimkan sampel tersebut ke laboratorium untuk diproses.

Untuk hasil pemeriksaan bisa Anda terima kurang lebih 1 – 2 jam setelah pengambilan sampel. 

Apa Perbedaan Serology Test dan Rapid Test?

Sekilas serology test terlihat mirip dengan rapid test karena sama-sama menggunakan sampel darah untuk mendeteksi antibodi, yakni protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh ketika mendeteksi zat berbahaya, seperti antigen dalam tubuh manusia. Namun, nyatanya dua tes ini berbeda. Berikut beberapa perbedaan serology test dan rapid test.

  • Pemeriksaan serology test dilakukan di laboratorium dengan menggunakan alat canggih sehingga memerlukan waktu yang lebih lama, namun minim human error. Sementara rapid test dapat dilakukan secara mandiri di rumah dan alatnya pun dijual bebas. Selain itu, hasil rapid test pun sudah bisa diterima dalam waktu kurang lebih 15 menit. 
  • Serology test memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi, yakni mencapai 96% sementara rapid test tingkat sensitivitasnya antara 40 – 100% tergantung merk dari alat rapid test.
  • Prosedur pengambilan sampel darah serology test dilakukan pada bagian lengan tangan, tepatnya di pembuluh darah vena. Setelah diperoleh jumlah darah yang dibutuhkan, sampel darah akan dibawa ke laboratorium untuk diproses. Sementara rapid test, prosedur pengambilan sampel darahnya dilakukan dengan menusuk jarum ke bagian ujung jari, kemudian darah yang keluar diteteskan pada alat rapid tes. Hasilnya akan keluar dalam waktu sekitar 15 -20 menit.

Apa Itu Swab Antigen? Ini Perbedaannya dengan PCR

Tes swab Antigen dan PCR memang banyak dilakukan untuk mendeteksi apakah seseorang terinfeksi virus SARS-CoV-2. Namun, banyak yang masih belum memahami apa itu swab antigen dan bedanya dengan tes PCR. Oleh sebab itu, yuk simak informasi selengkapnya berikut ini.

Apa Itu Swab Antigen?

Tes usap Antigen atau disebut juga tes diagnostik merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi protein spesifik dari virus corona. Antigen sendiri merupakan zat yang bisa merangsang imun tubuh, seperti protein, polisakarida, dan sebagainya.

Tubuh punya daya tahan sendiri. Ketika virus masuk ke dalam tubuh, maka akan direspons dengan mengeluarkan protein spesifik tertentu. Antigen dari virus SARS-CoV-2 yang sudah dikenali antara lain nukleokapsid fosfoprotein dan spike glikoprotein.

Jadi, tes antigen ini akan melihat keberadaan antigen dalam tubuh untuk mendeteksi apakah seseorang terinfeksi virus atau tidak.

Paling efektif pada orang yang terkena infeksi tahap awal, mendiagnosis orang yang memiliki risiko besar, hingga tindakan untuk mencegah terjadinya penularan virus Covid-19.

Cara Kerja Tes Swab Antigen

Tes swab Antigen menggunakan sampel cairan pernapasan atau lendir yang diambil dari hidung atau bagian tenggorokan. Alat yang digunakan untuk mengambil sampel adalah alat cotton bud panjang.

Sampel yang didapat dari hidung atau tenggorokan ini akan dimasukkan dalam larutan khusus, kemudian akan diperiksa apakan terdapat antigen virus corona. 

Waktu pemeriksaan dengan metode ini tidak memakan waktu yang lama, cukup 15 hingga 30 menit saja hasilnya sudah bisa diketahui. 

Tingkat Akurasi

Tingkat akurasi dari tes usap antigen ini cukup tinggi, namun pada beberapa kasus masih ada hasil tes negatif palsu karena kadar virus dalam tubuh sedikit atau rendah. 

Itulah kenapa tes ini lebih akurat dilakukan saat awal gejala Covid-19 muncul, yaitu ketika jumlah virus dalam tubuh tinggi. 

Hasil Pemeriksaan Tes Antigen

Hasil dari pemeriksaan tes Antigen ini akan menunjukkan hasil positif (reaktif) dan negatif (non reaktif). Hasil pemeriksaan ini bisa jadi kurang akurat. Orang yang dinyatakan positif pada pemeriksaan Antigen bisa jadi hanya terinfeksi virus influenza. Untuk memastikannya bisa dilakukan tes PCR.

Begitu pula dengan adanya hasil negatif palsu. Di mana bila Anda merasakan berbagai gejala Covid-19 atau sebelumnya melakukan kontak dengan pasien yang positif, ulangi dengan melakukan tes PCR untuk hasil yang lebih akurat.

Mengenal Tes PCR (Polymerase Chain Reaction)

Tes PCR adalah pemeriksaan yang direkomendasikan oleh WHO untuk mendeteksi seseorang terkena virus Corona. Sebab, tingkat akurasi dari tes PCR ini paling tinggi, yaitu 90 persen.

Pemeriksaan PCR ini bertujuan untuk mendiagnosis bila seseorang terpapar virus Corona atau tidak. Jika positif, maka bisa melakukan isolasi mandiri atau mendapat bantuan medis jika gejala yang dialami cukup parah.

Cara Kerja Tes PCR

Tes molekuler ini akan mendeteksi materi genetik dari virus Corona dalam tubuh. Selain itu, PCR juga berguna mendeteksi fragmen virus saat seseorang sudah tidak lagi terinfeksi. 

Tes PCR bisa melihat materi genetik dari virus dengan teknik perbanyakan. Virus penyebab Covid-19 ini punya materi genetik dengan rantai tunggal asam ribonukleat atau disebut RNA. 

Jadi nantinya pemeriksaan ini mengubah RNA menjadi DNA yang punya rantai ganda. Lalu, materi genetik tersebut akan diperbanyak dengan PCR. Tes akan dinyatakan positif jika mesin PCR mendeteksi adanya materi genetik virus corona. 

Metode Pemeriksaan

Pemeriksaan tes PCR ini membutuhkan sampel dari swab nasofaring atau lendir dari hidung dan tenggorokan. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan alat berupa cotton bud panjang. 

Sampel ini akan dimasukkan dalam wadah khusus yang steril dan diperiksa di laboratorium. Petugas akan melakukan ekstraksi genetik dengan menambahkan bahan kimia berupa reagen primer dan probe pada sampel. 

Setelah itu, sampel diperiksa dalam mesin PCR untuk proses termal, yaitu memanaskan dan mendinginkan RNA untuk mengubahnya menjadi DNA. 

Nantinya, bahan kimia tersebut mengikat DNA, yang akan mengeluarkan cahaya fluorescent apabila terinfeksi virus SARS-CoV-2.

Hasil Tes PCR

Berbeda dengan tes swab Antigen, tes PCR ini membutuhkan waktu 1-3 hari untuk mendapatkan hasilnya. Hasil tes berupa positif atau negatif. Jika positif mungkin pasien akan dianjurkan untuk isolasi mandiri atau mendapat penanganan medis. Jika negatif, maka pasien tidak terinfeksi virus Corona dan bisa melakukan langkah pencegahan untuk memutus penyebaran. 

Dengan informasi ini, semoga tidak ada lagi pertanyaan seputar apa itu swab antigen dan bedanya dengan tes PCR. Lakukan pemeriksaan jika Anda merasakan gejala atau melakukan kontak dengan pasien yang positif corona sebelumnya. Hal ini sebagai langkah preventif mencegah penyebaran virus Covid-19.

Mengenal Instalasi Hemodialisa di RSUD Rumah Sakit Sidoarjo

RSUD Sidoarjo, merupakan salah satu Rumah Sakit Sidoarjo yang terletak di Jl. Mojopahit No.667, Sidowayah, Celep, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Rumah Sakit Sidoarjo ini memiliki layanan unggulan yang disebut dengan instalasi hemodialisa. Namun, apa sebenarnya instalasi hemodialisa dan apa kegunaannya? Berikut penjelasan lengkapnya.

Apa itu instalasi hemodialisa?

Ginjal yang sehat akan membersihkan darah Anda dan mengeluarkan cairan ekstra dalam bentuk urin. Ginjal juga berfungsi membuat zat yang menjaga tubuh Anda tetap sehat. Instalasi hemodialisa menggantikan beberapa fungsi ini ketika ginjal Anda tidak lagi bekerja. 

Hemodialisa merupakan proses pembersihan darah dari akumulasi hasil metabolisme tubuh seperti ureum dan zat beracun lainnya. Hemodialisis diindikasikan bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal atau pasien berpenyakit akut yang membutuhkan dialysis waktu singkat atau beberapa bentuk keracunan. Frekuensi hemodialisa, tergantung kepada banyaknya fungsi ginjal yang tersisa, tetapi sebagian besar penderita menjalani tindakan hemodialisa sebanyak 2 kali/ minggu. Pada 5 tahun terakhir kasus gagal ginjal kronis menempati sepuluh kasus terbanyak di RSUD Sidoarjo dan menjadi penyebab kematian tertinggi.

Dengan data dan kondisi seperti ini RSUD sidoarjo akan menambah kemampuan dibidang Hemodialisis dari berbagai lini, penambahan mesin sampai 100 mesin pada tahun 2019 dengan spesifikasi mesin yang beragam. Penambahan dan kemampuan SDM juga sarana penunjang yang lain termasuk peningkatan dokter yang mampu terkait pemasangan AV shunt juga penambahan dokter spesialis kardiovaskular.

Kapan hemodialisis dibutuhkan?

Anda memerlukan hemodialisa jika ginjal Anda tidak lagi membuang cukup limbah dan cairan dari darah untuk membuat tetap sehat. Ini biasanya terjadi ketika Anda hanya memiliki 10 hingga 15 persen fungsi ginjal yang tersisa. Anda mungkin memiliki gejala seperti mual, muntah, bengkak dan kelelahan. 

Bagaimana cara kerja hemodialisis?

Hemodialisis yang tersedia di Rumah Sakit Sidoarjo adalah prosedur di mana mesin dialisis dan filter khusus yang disebut ginjal buatan, atau dialyzer, digunakan untuk membersihkan darah. Untuk memasukkan darah Anda ke dalam dialyzer, dokter perlu membuat akses, atau pintu masuk, ke dalam pembuluh darah. Ini dilakukan dengan operasi kecil, biasanya pada lengan Anda. 

Berapa lama perawatan hemodialisis berlangsung?

Hemodialisis biasanya dilakukan 3 kali per minggu selama sekitar 4 jam setiap kali. Orang yang memilih untuk melakukan hemodialisis di rumah dapat melakukan perawatan dialisis lebih sering, 4-7 kali per minggu dengan waktu yang lebih singkat setiap kali.

Apakah harus berpuasa sebelum lenjalankan perawatan hemodialisis?

Iya. Secara umum, pasien disarankan untuk meningkatkan asupan protein dan membatasi jumlah kalium, fosfor, natrium, dan cairan dalam makanan mereka. Pasien dengan diabetes atau kondisi kesehatan lainnya mungkin memiliki batasan diet tambahan. Penting untuk berbicara dengan ahli diet tentang kebutuhan diet pribadi Anda.

Tim perawatan di Rumah Sakit Sidoarjo akan memantau perawatan dengan tes laboratorium bulanan untuk memastikan mendapatkan jumlah dialisis yang tepat dan bahwa Anda memenuhi tujuan diet Anda.

Apakah hemodialisis memberikan efek yang tidak nyaman? 

Ketika Anda memulai hemodialisis, jarum yang dimasukkan ke dalam fistula atau cangkok mungkin tidak nyaman. Sebagian besar pasien terbiasa dengan ini pada waktunya. Tim perawatan di Rumah Sakit Sidoarjo akan memastikan Anda senyaman mungkin selama perawatan. Gejala seperti kram, sakit kepala, mual atau pusing tidak umum, 

Bisakah pasien bepergian setelah cuci darah?

Sebelum Anda bepergian, sebaiknya membuat bertanya lebih dahulu dengan para medis di Rumah Sakit Sidoarjo. Banyak pasien terus bekerja atau kembali bekerja setelah mereka melakukan proses tersebut. Jika pekerjaan Anda memiliki banyak pekerjaan fisik (angkat berat, menggali, dll.), Anda mungkin perlu mengubah tugas atau rutinitas, supaya tidak mudah lelah.