Tertarik dengan Pelayanan Farmasi Klinis, Kenali Lingkup Kerjanya

Profesi apoteker merupakan garda terdepan dalam mengawal pemberian dan penggunaan obat-obatan agar tepat guna dan sasaran pada pasien. Secara umum terdapat tiga jenis farmasi, yaitu apoteker farmasi klinik, rumah sakit, dan industri. 

Perbedaan farmasi klinis, rumah sakit, dan industri terletak di ruang lingkup pekerjaannya. Farmasi klinis lebih terfokus pada individu (person centered-care) yang dilakukan secara mandiri atau bersama tenaga medis dan/atau tenaga kesehatan lainnya untuk mengoptimalkan farmakoterapi pasien. 

Pekerjaan farmasi klinis

Apoteker farmasi klinis adalah praktisi berlisensi yang telah diedukasi dan melewati berbagai jenis pelatihan dalam penanganan pasien yang lebih berfokus pada pelayanan pasien, termasuk mengoptimalkan terapi obat dan meningkatkan kesehatan, kebugaran, dan mencegah penyakit. 

Secara umum, pekerjaan farmasi klinis adalah melayani pasien secara individu atau sebagai bagian kelompok penyedia layanan kesehatan yang bekerjasama dengan tenaga medis lainnya. Hal ini termasuk:

  • Memberikan saran atau rekomendasi obat yang tepat kepada pasien, yang bisa didasarkan dari riwayat medis atau penggunaan obat untuk memastikan obat yang akan diberikan bekerja
  • Menjelaskan kemungkinan efek samping obat
  • Mengganti obat jika pasien merasakan efek samping yang terlalu signifikan
  • Memeriksa kondisi pasien dan efektivitas obat yang dikonsumsi pasien
  • Memberi rujukan untuk pemeriksaan kesehatan seperti tes darah atau tes kesehatan lainnya  

Adapun tanggung jawab farmasi klinis di Indonesia meliputi:

  • Monitoring efek samping obat (MESO): Apoteker memantau respon pasien terhadap obat yang diberikan
  • Rekonsiliasi obat: Proses membandingkan pengobatan dengan obat yang sebelumnya digunakan pasien untuk mencegah terjadinya kesalahan pemberian obat, baik dalam segi duplikasi, kesalahan dosis, atau interaksi obat
  • Penelusuran riwayat penggunaan obat: Apoteker menanyakan obat yang pernah atau sedang digunakan
  • Konseling: Apoteker memberi saran terkait terapi obat bagi pasien rawat jalan maupun rawat inap
  • Kunjungan: Apoteker melakukan kunjungan ke pasien rawat inap secara mandiri atau bersama tim tenaga medis untuk mengamati kemajuan terapi obat atau mengkaji masalah terkait obat
  • Evaluasi penggunaan obat (EPO): Mengevaluasi penggunaan obat secara kualitatif dan kuantitatif
  • Memantau kadar obat dalam darah (PKOD): Menginterpretasi hasil pemeriksaan kadar obat dalam darah atas permintaan dokter atau usulan sendiri
  • Pelayanan swamedikasi: Apoteker melakukan pelayanan secara mandiri menggunakan sediaan farmasi tanpa resep dokter untuk menangani gangguan ringan

Farmasi klinis di Indonesia

Menurut Guru Besar Unpad Prof. Dr. Keri Lestari, S.Si., M.Si., Apt., salah satu tantangan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan pelayanan kesehatan adalah pemenuhan tenaga apoteker yang masih kurang di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas. 

Ia mengatakan diperlukan inovasi farmasi klinis untuk meningkatkan kualitas terapi obat dalam pelayanan kesehatan. Dengan memfokuskan pada farmasi klinik, posisi apoteker semakin jelas dan kuat sebagai bagian dalam tim pelayanan yang meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan keamanan pasien. 

Sayangnya berdasarkan pasal 108 UU 36/2009 tentang Kesehatan, pelayanan farmasi klinik belum secara tegas tertulis dalam kelompok pelayanan farmasi di Indonesia. Pasal tersebut hanya menjelaskan 2 jenis pelayanan kefarmasian yaitu:

  1. Pelayanan obat resep atas dokter: Apoteker mengkaji obat dan memastikan tidak ada masalah terkait obat, serta mengonsultasikan masalah yang ditemukan kepada dokter. 
  2. Pelayanan informasi obat (PIO): Apoteker memberikan informasi dan rekomendasi obat secara akurat kepada dokter, perawat, atau profesi kesehatan lainnya.

Dilansir dari Farmasetika, beberapa pelayanan farmasi klinik justru termasuk ke dalam kelompok pelayanan obat atas resep dokter yaitu:

  • Menjamin sterilitas dan stabilitas produk dari paparan zat berbahaya serta menghindari salah pemberian obat (Dispensing sediaan steril), termasuk Pencampuran Obat Suntik, Penanganan Sediaan Sitostatik dan Penyiapan Nutrisi Parenteral
  • Pelayanan dispensing sediaan radiofarmasi berdasarkan permintaan dari tenaga medis

Catatan

Profesi farmasi klinis sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pelayanan dan kepercayaan pasien terhadap tenaga medis. Bisa dikatakan tanggung jawab apoteker farmasi klinik pun lebih banyak dari apoteker rumah sakit, sehingga dalam segi pendapatan pun lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *