Warna Putih di Kuku Mengganggu? Hilangkan dengan Cara Ini

Warna Putih di Kuku Mengganggu? Hilangkan dengan Cara Ini

Kuku sehat biasanya berwarna merah muda dan berkilau. Perubahan warna, garis dan tonjolan, kuku rapuh, atau bercak putih pada kuku bisa menjadi tanda kondisi medis. Namun berbeda dengan warna putih di kuku yang disebut leukonikia. 

Dalam kebanyakan kasus, garis atau bintik putih tersebut terjadi akibat kuku tak sengaja terbentur benda keras. Infeksi jamur kuku juga bisa menyebabkan bercak di seluruh permukaan kuku. 

Tanda putih pada kuku juga bisa menandakan kurang mineral, yang mudah diobati dengan mengonsumsi makanan atau suplemen tertentu. Pada kasus yang jarang terjadi, bercak putih mengindikasikan kondisi kesehatan kronis.

Jenis-jenis leukonikia

Terdapat tiga jenis leukonikia, yaitu:

  1. Leukonikia total

Seluruh permukaan kuku bisa berubah menjadi putih. Biasanya leukonikia jenis ini bersifat genetik (keturunan).

  1. Leukonikia parsial

Pada kondisi ini warna putih tampak pada beberapa bagian kuku. Leukonikia parsial memiliki tiga variasi:

  • Striata: Garis putih horizontal pada kuku dan tampak sejajar dengan pangkal kuku (lunula). Kondisi ini juga disebut dengan Mees ‘Lines atau Transverse Leukonychia.
  • Punctata: Bintik putih kecil pada kuku. Ini merupakan bentuk leukonikia paling umum dan disebut juga sebagai leukonikia sejati.
  • Longitudinal: Garis putih memanjang muncul di bawah lempeng kuku. Jenis ini jarang sekali muncul. 
  1. Leukonikia tampak

Warna putih di kuku disebabkan adanya perubahan pada bantalan kuku, bukan pada lempengannya. Terdapat beberapa variasi leukonikia tampak yaitu kuku Terry, kuku Muehrcke, dan kuku setengah-setengah.

Menghilangkan warna putih pada kuku secara alami

Warna putih di kuku biasanya akan hilang dengan sendirinya. Jika disebabkan oleh faktor lain, seperti infeksi jamur atau kondisi medis, perawatannya akan berbeda tergantung penyebab tersebut. 

Namun sebelum mengunjungi dokter, Anda mungkin ingin mencoba menghilangkan bercak putih di kuku secara alami.

  1. Baking soda

Baking soda merupakan bahan rumahan yang memiliki beragam manfaat. Soda kue memiliki sifat basa yang membantu membunuh bakteri serta menghilangkan bintik putih di kuku akibat cedera pada kuku. 

Anda cukup mencampurkan 8 sdm soda kue, 4 sdm peroksida, 8 sdm cuka, 8 sdm garam, kemudian larutkan dengan 4 gelas air. Setelah semua bahan tercampur rata, oleskan ke kuku Anda yang terdampak. 

Diamkan beberapa menit, lalu oleskan kembali campuran tersebut. Terakhir, Anda bisa menutupnya dengan perban. Lakukan cara ini setiap hari selama minimal 2 minggu. 

  1. Minyak pohon teh

Minyak pohon teh efektif menghilangkan bercak putih di kuku yang disebabkan oleh infeksi jamur. Campurkan 6 tetes minyak pohon teh dengan 15 ml minyak zaitun. Lalu oles ke kuku Anda. Tunggu selama 15 – 20 menit lalu bilas.

  1. Jus lemon

Jus lemon mengandung vitamin C yang berkhasiat sebagai antioksidan. Mengoleskan campuran 1-2 sdt jus lemon dengan sedikit minyak zaitun ke kuku yang terdampak secara rutin bisa membantu menghilangkan bintik putih di kuku. 

Anda juga bisa menggunakan minyak jeruk atau menggosokkan potongan jeruknya langsung ke kuku yang terkena.

  1. Cuka putih

Merendam kuku dengan larutan cuka putih hangat selama 10 menit setiap hari diklaim dapat membantu menghilangkan bercak putih pada kuku dengan cepat.

Catatan

Perlu diingat bahwa cara menghilangkan garis putih di kuku secara alami seperti yang telah disebutkan di atas mungkin tidak efektif bagi beberapa orang. Anda juga bisa mengalami efek samping, seperti gatal atau ruam, yang berarti penggunaan harus dihentikan. Agar lebih aman, konsultasikan ke dokter untuk mengetahui penyebab warna putih di kuku Anda dan mendapat perawatan yang sesuai.

Ketahui Pemicu Alergi Makanan dengan Melakukan Tes Alergi

tes alergi

Apakah Anda mudah terkena alergi setelah mengkonsumsi berbagai makanan pemicu alergi? Jika iya, maka Anda bisa mencoba mengetahui pemicunya dengan melakukan tes alergi

Alergi merupakan reaksi alami sistem imun tubuh yang bereaksi terhadap asupan makanan tertentu. Tidak hanya makanan yang bisa memicu terjadinya alergi, tapi juga debu, serbuk bunga, dan hal-hal lainnya. Jika Anda memang alergi terhadap makanan, maka harus tahu apa pemicunya. Sehingga nantinya bisa dihindari.

Mengenal Tes Alergi

Tes alergi merupakan serangkaian tes yang biasanya dilakukan spesialis dalam menentukan pemicu alergi, khususnya untuk mengetahui substansi apa yang memicu reaksi imun tubuh. 

Tes alergi ini bisa dilakukan dengan tiga cara, yaitu tes darah, tes kulit, hingga makanan pemicu alergi.

Tes kulit darah sering digunakan bersama untuk mendiagnosis alergi. Lagipula, kedua tes ini sifatnya saling melengkapi. Meski begitu, ada pula beberapa kondisi yang membuat tes kulit lebih cocok dibanding tes darah atau sebaliknya.

Tes ini jarang pula memberikan hasil yang negatif palsu. Jika hasil pemeriksaannya negatif, maka ini menandakan Anda tidak mengalami alergi terhadap jenis makanan tertentu.

3 Jenis Tes Alergi

  1. Tes darah 

Tes darah ini dilakukan jika alergi yang dialami sudah benar-benar parah. Tes ini juga menjadi pilihan untuk pasien yang kulitnya sensitif. DItakutkan jika menggunakan tes kulit hasilnya akan keliru.

Tes alergi dengan darah ini dilakukan dengan mengirim sampel darah pasien ke laboratorium, lalu hasilnya akan keluar dalam beberapa hari.

Apabila hasilnya menunjukkan positif, maka antibodi spesifik alergi terdeteksi dalam darah Anda. Ini berarti bahwa seseorang alergi terhadap bahan makanan tertentu. 

Dengan hasil tes darah ini, Anda akan tahu alergi yang sebenarnya dialami. Bahkan, Anda bisa mendeteksi alergi tertentu meskipun belum pernah mengalami reaksi tersebut sebelumnya.

Jika hasilnya negatif, maka kemungkinan besar Anda tidak punya alergi tertentu. Bisa jadi karena sistem imun Anda Tidak merespon alergen yang diujikan. 

Hasil pemeriksaan pun haruslah didefinisikan dengan seksama oleh spesialis alergi agar hasilnya akurat. Biasanya akan dipertimbangkan juga berbagai gejala dan riwayat medis Anda.

  1. Tes kulit (skin test)

Tes kulit juga bisa untuk mengidentifikasi alergen. Biasanya kulit akan dibersihkan terlebih dahulu dengan alkohol, lalu sejumlah alergen akan disuntikkan ke sejumlah lapisan kulit di bagian lengan bawah.

Setelah itu, sekitar 15-20 menit kemudian, akan muncul berbagai reaksi alergi. JIka terjadi gatal atau pembengkakan, maka alergen yang disuntikkan menjadi pemicunya. Begitu pula sebaliknya. 

Ada pula bentuk tes kulit lainnya yaitu patch test dengan memasang patch di kulit. Lalu, akan dilihat reaksi tubuh dalam jangka waktu 48-96 jam setelah dilakukan pemasangan patch tersebut.

  1. Tes eliminasi makanan

Selain tes darah dan kulit, ada pula tes eliminasi makanan yang mengkombinasikan tes kulit dengan tes darah. 

Diet eliminasi ini biasanya akan berlangsung 2-4 minggu lamanya. Selama tes eliminasi makanan ini berlangsung, Anda harus menghindari makanan yang dicurigai menjadi alergen. Jika ada satu atau lebih makanan yang menyebabkan alergi, maka gejala tersebut akan hilang di akhir periode tes.

Alergi yang Paling Umum Muncul

Setidaknya, WHO mencatat ada lebih dari 70 jenis makanan yang menyebabkan alergi. Berikut yang paling umum muncul, yaitu:

  • Susu sapi, biasanya sering terjadi pada 2-3 persen bayi dan juga anak-anak, umumnya bayi yang konsumsi susu sapi sebelum usia 6 bulan.
  • Kacang-kacangan, biasanya yang memicu alergi adalah almond, walnut, pistachio, cashew, dan sebagainya.
  • Telur, merupakan alergi yang juga umum terjadi pada anak-anak, bahkan mencapai 68 persen. Akan tetapi, biasanya alergi ini akan mudah ditoleransi seiring pertumbuhan anak.
  • Seafood, makanan laut mengandung protein tropomyosin yang bisa memicu terjadinya alergi makanan pada seseorang. Makanan laut yang umumnya menyebabkan alergi adalah udang, cumi-cumi, lobster, hingga kerang.
  • Gandum, ternyata gandum dapat memicu sensitivitas tubuh terhadap gluten. Alergi gandum ini bisa diketahui lewat tes alergi yang dilakukan dengan tes kulit. 

Lidah Kuning, Penyakit Apa Itu?

lidah kuning

Lidah kuning merupakan kondisi dimana lidah berubah menjadi kuning karena berbagai penyebab seperti pigmen berwarna yang dihasilkan bakteri, tumbuh dari sel kulit mati pada papila.

Papila merupakan tonjolan kecil yang timbul di permukaan lidah. Jika papila membesar atau lebih panjang, papila akan mengumpulkan sel mati, sisa makanan, dan zat lainnya di area tersebut. Kumpulan di lidah bisa memicu berbagai kondisi, termasuk lidah kuning.

Lidah kuning tidak memicu kondisi yang berbahaya bagi tubuh. Meskipun demikian, pada sebagian kasus, lidah kuning menunjukkan bahwa seseorang mengalami kondisi tertentu seperti gangguan hati.

Gejala

Berikut adalah gejala yang timbul akibat lidah kuning:

  • Warna kuning pada lidah.
  • Benjolan pada lidah.
  • Nafas bau.
  • Tersedak.
  • Sakit tenggorokan.
  • Sensasi terbakar.
  • Demam.
  • Mual.

Jika Anda mengalami gejala yang lebih serius, Anda sebaiknya temui dokter supaya kondisi Anda bisa segera ditangani.

Penyebab

Berikut adalah faktor yang menyebabkan lidah kuning:

  • Lidah berbulu

Lidah berbulu merupakan kondisi dimana lidah memiliki lapisan abnormal yang tampaknya seperti bulu. Pada awalnya, lidah berbulu membuat lidah tampak kuning, namun lidah bisa berubah menjadi hitam.

  • Mulut kering

Mulut kering merupakan kondisi dimana manusia kekurangan air liur di rongga mulut. Air liur memiliki kegunaan dalam membersihkan bakteri dari mulut. Jika manusia kekurangan air liur, bakteri akan tumbuh dan mengeluarkan pigmen kuning di lidah.

  • Kebiasaan bernafas dengan mulut

Kebiasaan bernafas dengan mulut bisa membuat mulut kering sehingga bisa meningkatkan risiko lidah kuning.

  • Kurang menjaga kebersihan mulut

Jika mulut tidak dijaga, maka sel kulit dan bakteri akan tetap menumpuk di papila lidah. Bakteri yang berada di bagian tersebut akan tumbuh dan mengeluarkan pigmen yang bisa membuat lidah kuning.

  • Lidah geografik

Lidah geografik merupakan kondisi dimana papila menghilang dan membentuk bercak yang terlihat seperti pulau. Bercak tersebut tidak hanya membuat lidah merah, namun juga bisa membuat lidah kuning.

  • Penyakit kuning

Penyakit kuning atau jaundice merupakan kondisi yang menyebabkan kekuningan pada kulit dan mata. Kekuningan disebabkan oleh peningkatan kadar bilirubin (pigmen kuning).

  • Obat-obatan

Sebagian obat bisa menimbulkan efek samping yang berbeda pada tubuh, termasuk lidah kuning. Contoh obat yang bisa meningkatkan risiko lidah kuning adalah obat antibiotik, obat pengencer darah, obat kanker, dan obat antipsikotik.

  • Merokok

Merokok merupakan faktor lain yang bisa memicu berbagai masalah pada tubuh, termasuk lidah kuning.

  • Kandidiasis oral

Kandidiasis oral merupakan infeksi jamur Candida yang menimbulkan bercak putih di lidah. Kondisi tersebut bisa membuat lidah kuning.

  • Masalah lambung

Masalah pada lambung seperti gastritis disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori. Bakteri tersebut bisa membuat lidah manusia kuning.

  • Penyakit autoimun

Penyakit autoimun merupakan penyakit yang bisa mengganggu sistem kekebalan tubuh. Penyakit autoimun dapat menyebabkan bakteri tumbuh di lidah dan membuat lidah kuning.

  • Zat-zat

Contoh zat yang bisa membuat lidah kuning adalah mentol dan alkohol.

Pengobatan

Pada umumnya, orang-orang yang mengalami lidah kuning tidak perlu menggunakan obat jika mereka ingin mengatasi kondisi tersebut. Namun, mereka harus menjaga mulut setiap saat. Lidah perlu dibersihkan ketika mereka menggosok gigi.

Pencegahan

Lidah kuning bisa dicegah dengan cara-cara seperti:

  • Mengkonsumsi air putih secara rutin.
  • Tidak merokok.

Kesimpulan

Meskipun lidah kuning tidak membahayakan tubuh, ada berbagai penyebab yang bisa meningkatkan risiko lidah kuning. Oleh karena itu, manusia perlu menjaga mulut setiap saat. Untuk informasi lebih lanjut tentang lidah, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter.

Kaki dan Tangan Kesemutan, Apa Penyebabnya?

tangan kesemutan

Setiap orang mungkin pernah merasakan yang namanya kesemutan. Kesemutan bisa terjadi di bagian tubuh manapun, khususnya di tangan dan kaki. Ketika kaki dan tangan kesemutan, Anda mungkin akan merasakan sensasi mati rasa sekaligus rasa tertusuk.

Umumnya, kesemutan terjadi ketika aliran darah di sekitar lokasi tersebut terhambat. Hal ini sering terjadi saat Anda berada di satu posisi yang sama terlalu lama.

Akan tetapi, kesemutan juga bisa saja terjadi tanpa sebab yang jelas. Jika kesemutan berkepanjangan dan tidak diketahui penyebabnya, mungkin ada kondisi medis khusus yang mendasarinya. 

Apa yang menyebabkan kaki dan tangan kesemutan?

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan kaki dan tangan kesemutan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Diabetes

Diabetes merupakan penyebab kesemutan yang paling umum. Menurut penelitian, sekitar 30 persen dari kasus kesemutan kronis disebabkan oleh diabetes. 

Kesemutan yang disebabkan oleh diabetes seringkali muncul pertama kali pada kedua kaki, kemudian perlahan naik ke tungkai, dan terus sampai ke tangan dan jari-jari tangan. Kesemutan yang seperti ini bisa menjadi gejala pertama yang menandakan bahwa Anda menderita diabetes. 

  • Kekurangan vitamin

Tahukah Anda bahwa kesemutan juga bisa terjadi karena Anda kekurangan vitamin? Secara khusus, kondisi ini dirasakan saat tubuh kekurangan vitamin E, B1, B6, B12, dan niasin. 

Seluruh vitamin tersebut diperlukan untuk memelihara kesehatan saraf. Kekurangan vitamin akan mengganggu fungsi saraf, sehingga memicu pada kesemutan jangka panjang. 

Akan tetapi, perlu diperhatikan, asupan vitamin B6 yang terlalu banyak juga bisa menyebabkan kesemutan. Karena itu, sebaiknya konsumsi vitamin Anda dalam kadar yang wajar, tidak kekurangan namun juga tidak berlebihan.

  • Racun dalam tubuh

Ada beberapa racun yang ketika terpapar ke tubuh bisa menimbulkan dampak berbahaya, termasuk membuat tangan kesemutan. Contohnya seperti logam berupa timbal, arsen, merkuri, talium, dan bahan kimia industri serta lingkungan.

Racun juga bisa meliputi obat-obatan jenis tertentu, khususnya obat kemoterapi yang digunakan untuk mengatasi kanker. Karena itu, penderita kanker yang menjalani kemoterapi lebih rentang mengalami kesemutan parah.

Beberapa jenis antibiotik dan obat antivirus juga bisa menimbulkan efek samping berupa kerusakan saraf yang mengacu pada kesemutan. 

  • Penyakit sistemik

Penyakit yang termasuk sebagai golongan penyakit sistemik adalah gangguan pada ginjal, penyakit hati, kerusakan pembuluh darah dan penyakit darah, gangguan jaringan ikat, ketidakseimbangan hormon, dan lain-lain.

Selain itu, pertumbuhan sel kanker dan tumor jinak juga bisa mempengaruhi saraf dan membuat Anda mengalami tangan kesemutan. 

  • Kecanduan alkohol

Bagi Anda yang gemar mengonsumsi alkohol, hati-hatilah pada kemungkinan untuk mengalami kesemutan jangka panjang. Orang-orang yang kecanduan alkohol cenderung mengalami kekurangan tiamin dan vitamin lainnya, mengakibatkan kerusakan saraf.

Hal ini juga telah dibuktikan melalui sejumlah penelitian. Kebiasaan mengonsumsi alkohol juga membuat Anda memiliki kebiasaan makan yang buruk. Hal ini juga akan menyebabkan gangguan pada saraf karena kurangnya vitamin serta nutrisi penting lainnya.

  • Infeksi

Sejumlah penyakit infeksi serius juga bisa menyebabkan gangguan pada saraf. Kesemutan menjadi salah satu efek samping atau komplikasi yang dirasakan. 

Contohnya adalah infeksi berupa penyakit lyme, herpes zoster, cytomegalovirus, herpes simpleks, HIV, dan AIDS. 

Itulah beberapa kondisi yang bisa menyebabkan kaki dan tangan kesemutan. Pengobatannya dilakukan dengan mengendalikan penyakit yang mendasarinya, barulah kesemutan yang Anda alami bisa membaik.

Parkinsonisme VS Penyakit Parkinson, Ketahui Perbedaan Keduanya

Penyakit Parkinson adalah gangguan fungsi otak (neurodegeneratif) yang disebabkan oleh degenerasi sel saraf di otak yang memproduksi hormon dopamin. Kondisi ini ditandai dengan tremor, badan kaku, dan gangguan gerak lainnya. 

Parkinsonisme bukan merujuk pada pasien penderita penyakit Parkinson. Meski memiliki kata yang hampir mirip, kedua penyakit itu tidak bisa disamakan. 

Apa itu Parkinsonisme?

Parkinsonisme disebut juga dengan Parkinson atipikal atau Parkinson plus, didefinisikan sebagai sindrom klinis, berbeda dengan penyakit Parkinson yang merupakan penyakit neurodegeneratif progresif. 

Penderita parkinsonisme memiliki kemiripan pada beberapa gejala motorik Parkinson, dan disertai dengan indikasi lain. Diketahui Parkinson hanya mewakili 10-15% dari semua kasus parkinsonisme yang didiagnosis.

Ada beberapa jenis parkinsonisme, diantaranya parkinsonisme yang diinduksi obat, parkinsonisme vaskular, dan degenerasi kortikobasal (CBD).

Perbedaan penyebab dan gejala

Penyakit Parkinson disebabkan oleh degenerasi sel saraf otak yang bisa dipicu dengan penuaan, toksin lingkungan, dan riwayat genetika. Kondisi pasien Parkinson akan semakin memburuk seiring waktu. 

Sementara itu parkinsonisme memiliki banyak penyebab, seperti efek samping obat-obatan, trauma kepala kronis, penyakit metabolik, paparan racun, dan penyakit neurologis.

Untuk mendiagnosis penyakit Parkinson, pasien harus menunjukkan minimal dua tipe gejala dari empat gejala utama berikut:

  • Gemetar atau tremor di tangan, lengan, kaki, rahang, atau kepala yang terjadi dalam kondisi istirahat dan berhenti saat bergerak
  • Kekakuan pada lengan, tungkai, atau batang tubuh
  • Bradykinesia atau lambatnya gerakan pada anggota tubuh dan/atau wajah ketika berjalan
  • Terganggunya keseimbangan dan koordinasi, terkadang menyebabkan terjatuh

Gejala lainnya bisa termasuk depresi dan perubahan emosional, sulit menelan, mengunyah, dan berbicara, konstipasi, dan gangguan tidur.

Sedangkan parkinsonisme memiliki beberapa gejala yang telah disebutkan di atas disertai dengan tekanan darah rendah, ketidakmampuan untuk menggerakkan mata ke atas dan ke bawah, hingga demensia. 

Karena gejalanya yang hampir mirip, agak sulit untuk mendiagnosis Parkinson dan parkinsonisme. Diagnosa hanya bisa dilakukan dari gambaran klinis karena hingga saat ini belum ada tes yang efektif untuk mendiagnosis Parkinson dan parkinsonisme. 

Ketika ada pasien dengan gejala Parkinson, dokter akan memperlakukannya seperti pasien Parkinson terlepas dari apakah dia benar-benar menderita penyakit tersebut atau parkinsonisme. 

Kondisi itu sering terjadi pada parkinsonisme ringan. Namun seiring waktu ada beberapa hal yang bisa digunakan untuk membedakan keduanya. Penderita parkinsonisme biasanya tidak mengalami tremor, kedua sisinya terpengaruh secara merata, dan tidak merespon obat Parkinson dengan baik.

Bisakah parkinsonisme disembuhkan?

Belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan parkinsonisme. Perawatan umum untuk Parkinson dan parkinsonisme adalah mengurangi gejala untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Obat-obatan untuk Parkinson, seperti pengobatan dopamin (Levodopa), efektif untuk beberapa bentuk parkinsonisme. Perawatan non-farmakologis lain yang bisa membantu antara lain:

  • Aktif secara fisik, seperti rutin berolahraga yang berfokus pada membangun massa otot, kekuatan, dan kelenturan
  • Menjalani terapi fisik
  • Melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan terapi
  • Terapi bicara
  • Terapi nutrisi
  • Psikoterapi individu dan keluarga
  • Bergabung dengan support group

Karena penderita cenderung hilang keseimbangan, anggota keluarga bisa ikut membantu dengan menciptakan lingkungan yang aman bagi penderita. 

Misalnya, memasang pegangan tangan di sekitar dinding kamar mandi, menghindari meletakkan barang yang bisa menghalangi gerak pasien, menggunakan keset anti-slip, dan letakkan barang-barang yang sering digunakan dalam jangkauan.

Apabila Anda memiliki pertanyaan terkait parkinsonisme dan gangguan medis lainnya, silahkan hubungi dokter di aplikasi kesehatan SehatQ. Download aplikasinya sekarang di App Store atau Google Play Store.

Disseminated Intravascular Coagulation, Kondisi Langka yang Mengancam Jiwa

Disseminated Intravascular Coagulation, Kondisi Langka yang Mengancam Jiwa

Ada banyak sekali kondisi langka yang tanpa disadari bisa mengancam nyawa. Salah satunya adalah Disseminated Intravascular Coagulation atau DIC, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan darah Anda akan menggumpal secara berlebih. 

Kondisi ini khususnya bisa terjadi karena protein yang bertugas untuk mengendalikan pembekuan darah menjadi terlalu aktif. Peningkatan pembekuan darah ini akan menghabiskan trombosit yang diperlukan untuk mengontrol pendarahan. 

Akibatnya, ketika Anda mengalami DIC, Anda akan mengalami pendarahan yang berlebihan. 

Apa yang menyebabkan Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)?

Pada dasarnya, ketika Anda mengalami cedera, protein dalam darah akan bergerak ke lokasi cedera untuk mendukung penggumpalan darah. Hal ini mencegah Anda mengalami pendarahan berlebih, bahkan menghentikan pendarahan pada bagian cedera itu.

Akan tetapi, jika protein ini menjadi terlalu aktif, Anda akan mengalami Disseminated Intravascular Coagulation. Protein yang terlalu aktif ini bisa dipicu oleh beberapa faktor, seperti infeksi, peradangan, dan kanker. Selain itu, ada juga beberapa penyebab yang tidak terlalu umum, seperti:

  • Gigitan ular berbisa
  • Luka bakar
  • Komplikasi selama kehamilan
  • Pankreatitis
  • Suhu tubuh yang sangat rendah atau hipotermia

Saat protein terlalu aktif, pembekuan darah menjadi terlalu berlebih. Darah yang membeku akan membentuk gumpalan yang menyumbat pembuluh darah. 

Karena pembuluh darah tersumbat, suplai darah ke organ-organ tubuh Anda pun menjadi terhambat. Kekurangan aliran darah bisa menyebabkan cedera parah pada organ-organ tersebut, khususnya hati, otak, dan ginjal.

Kemudian, ketika darah membeku, kadar protein yang bisa membekukan darah akan habis perlahan. Jadi, ketika berikutnya Anda mengalami cedera yang mengeluarkan darah, protein itu tidak mampu lagi membekukan darah Anda. 

Akibatnya, Anda malah akan mengalami pendarahan berlebihan di area cedera tersebut. Ini merupakan kondisi medis yang serius, karena ketika pendarahan tak bisa dihentikan, tubuh Anda bisa kehilangan banyak darah. 

Tanda-tanda Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)

Disseminated Intravascular Coagulation bisa terjadi secara tiba-tiba maupun secara perlahan. Keduanya menimbulkan gejala atau tanda-tanda yang berbeda. 

  • Gejala DIC yang tiba-tiba

Apabila DIC terjadi secara tiba-tiba, Anda akan merasakan gejala berupa pendarahan yang sangat parah. Hal ini juga bisa terjadi ketika melakukan operasi atau persalinan, dimana darah yang keluar setelah operasi menjadi tidak terkendali. 

Pendarahan juga bisa terjadi pada area suntikan intravena atau di otak, lalu di saluran pencernaan, di kulit, otot, dan juga rongga-rongga tubuh.

  • Gejala DIC yang perlahan

DIC juga bisa berkembang dengan lambat. Hal ini bisa terjadi pada penderita kanker dan menyebabkan pembekuan di pembuluh darah lebih sering terjadi dibandingkan dengan pendarahan yang terlihat. 

Saat pembekuan terjadi di pembuluh darah dan menyebabkan gumpalan, Anda akan merasakan gejala berupa pembengkakan, kemerahan, dan nyeri di area gumpalan tersebut. Umumnya, penggumpalan ini terjadi di area kaki.

Selain itu, Anda juga mungkin akan mengalami gejala tambahan lainnya, baik ketika menderita DIC yang perlahan maupun yang tiba-tiba. Gejala tambahan itu berupa: 

  • Penurunan tekanan darah
  • Tubuh mudah memar
  • Pendarahan rektal atau vagina
  • Muncul titik merah di permukaan kulit
  • Demam
  • Sesak napas
  • Kebingungan, hilang ingatan, dan perubahan perilaku yang tidak biasa

Tanda-tanda di atas bisa Anda kenali sebagai gejala Disseminated Intravascular Coagulation. Ketika mengalaminya, maka Anda perlu segera mendapatkan pertolongan darurat. Bila dibiarkan, kondisi ini bisa mengancam jiwa.

Berbagai Infeksi yang Disebabkan oleh Bakteri Streptococcus Tipe A dan B

Bakteri Streptococcus

Tahukah Anda mengenai bakteri streptococcus? Jenis bakteri ini merupakan penyebab peradangan dan juga nyeri tenggorokan. Bahkan bakteri ini juga dapat menyebabkan selulitis, pneumonia hingga infeksi telinga.

Infeksi yang Disebabkan Bakteri Streptococcus

Sebenarnya, bakteri ini memiliki beberapa jenis, yaitu A, B, C, dan G. Namun, ada 2 jenis yang paling sering menyebabkan infeksi pada manusia, yakni Streptococcus A dan B.

  1. Streptococcus A

Ada beberapa jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri jenis A ini, yaitu:

  • Demam Scarlet

Demam scarlet ini memiliki gejala awal dengan muncul ruam merah. Penyakit ini biasanya rentan dialami oleh anak yang berusia 5-15 tahun. Demam scarlet ini sebaiknya tidak dibiarkan karena kemungkinan bisa menimbulkan komplikasi pada jantung dan ginjal.

  • Panas Dalam

Memang tidak semua panas dalam (strep throat) adalah karena infeksi bakteri streptococcus. Strep stroat paling rentan dialami oleh anak yang berusia 5-15 tahun. Panas dalam juga bersifat menular, khususnya di sekolah atau daycare dan tempat perkumpulan lain. 

Panas dalam memiliki gejala umum berupa tonsil membengkak, serta muncul bintik putih. Jika strep throat ini tidak kunjung sembuh dan disertai kesulitan bernapas, maka periksakan segera ke dokter.

  • Toxic Shock Syndrome

Penyakit langka toxic shock syndrome ini disebabkan oleh Streptococcus yang masuk ke tubuh. Saat berada di tubuh, bakteri ini mengeluarkan racun berbahaya. Gejala yang muncul biasanya berupa diare, muntah, mual, hingga kulit di tumit dan telapak tangan mengelupas.

  • Impetigo

Penyakit ini menular melalui adanya kontak langsung antara kulit dengan bakteri. Gejala impetigo adalah berupa munculnya ruam merah pada kulit lalu akan menjadi luka terbuka berisi nanah. Biasanya penyakit impetigo terjadi pada anak-anak dan balita.

  • Selulitis

Penyakit ini disebabkan karena bakteri yang menyebar hingga ke dalam kulit sehingga menyebabkan infeksi kulit dan jaringan lunak yang ada di bawahnya. Selulitis ini tidak menular. Orang yang berisiko mengalami infeksi ini adalah orang yang memiliki luka terbuka dan tidak dibersihkan dengan benar. Meski tidak menular, bukan berarti penyakit ini bisa dianggap sepele karena dapat menyebabkan komplikasi yang fatal.

  • Sinusitis

Bakteri streptococcus ini juga menginfeksi rongga kecil di dahi dan tulang pipi. Hal ini akan membuat penderitanya mengalami hidung tersumbat dan terasa nyeri di bagian wajah atau disebut sinusitis.

  • Sepsis

Sepsis juga merupakan infeksi akibat bakteri strep. Sepsis adalah infeksi peredaran darah yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan kerja jantung, napas tersengal, hingga demam.

  1. Streptococcus B

Bakteri streptococcus tipe B ini memang biasa datang dan pergi secara alami di tubuh. Umumnya, bakteri ini tidak berbahaya, namun di sisi lain, bisa menyebabkan penyakit serius pada manusia. 

Ada beberapa penyakit yang disebabkan karena infeksi streptococcus B ini, yaitu:

  • Infeksi pada Orang Dewasa

Orang dewasa yang terinfeksi streptococcus B ini biasanya meningkat bila mereka menderita penyakit yang mengganggu sistem imun seperti infeksi HIV, diabetes, dan juga penyakit liver. Orang yang sudah berusia lanjut di atas 65 tahun juga memiliki peningkatan risiko terinfeksi bakteri Strep B ini.

  • Infeksi pada Bayi yang Baru Lahir

Selain pada orang dewasa, bakteri streptococcus ini juga bisa menginfeksi bayi baru lahir. Komplilkasi yang muncul berupa pneumonia, meningitis, hingga mengalami infeksi aliran darah (bacteremia). Risiko akan lebih meningkat dialami oleh bayi yang lahir prematur atau belum genap berusia 37 minggu.

Trombositemia dan Trombositosis: Kadar Trombosit Darah

Trombositemia dan Trombositosis: Kadar Trombosit Darah

Trombositemia dan trombositosis merupakan kondisi yang menimbulkan kadar trombosit lebih rendah atau tinggi dari kadar normal.

Kadar trombosit normal berkisar antara 150.000 hingga 450.000 trombosit per mikroliter. Jika kadar trombosit manusia di bawah 150.000, hal tersebut disebut sebagai trombositemia. Jika kadar trombosit manusia di atas 450.000, hal tersebut disebut sebagai trombositosis.

Trombosit memiliki peran dalam proses pembekuan darah. Jika manusia memiliki kadar trombosit yang berlebihan, mereka bisa berpotensi mengalami penyumbatan pembuluh darah, stroke, dan serangan jantung.

Trombositosis

Trombositosis terdiri dari dua jenis, antara lain trombositosis primer dan trombositosis sekunder. Orang-orang lebih sering mengalami trombositosis sekunder dibandingkan dengan trombositosis primer.

Gejala Trombositosis

Pada awalnya, orang-orang yang mengalami trombositosis tidak menunjukkan gejala apapun. Namun, orang yang mengalami trombosis primer bisa menunjukkan tanda dan gejala yang lebih serius dibandingkan dengan trombositosis sekunder. Tanda dan gejala yang dialami penderita trombositosis dipengaruhi oleh pembekuan darah dan perdarahan. Berikut adalah gejala yang dialami penderita:

  • Merasa lelah.
  • Sakit kepala.
  • Pusing.
  • Sakit pada dada.
  • Kesemutan atau mati rasa pada tangan atau kaki.
  • Perdarahan.

Trombositemia

Seseorang yang mengalami trombositemia (primer) akan mengalami pembekuan darah pada pembuluh darah otak, tangan, dan kaki. Pembekuan darah juga dapat terjadi pada bagian tubuh lain, termasuk organ tubuh seperti usus dan jantung.

Pembekuan darah pada otak menyebabkan sakit kepala dalam waktu yang lama dan pusing. Pada kasus yang lebih serius, masalah tersebut juga dapat menimbulkan stroke. Pembekuan darah pada pembuluh darah kecil tangan dan kaki menyebabkan kemerahan dan mati rasa. Kondisi tersebut juga dapat menimbulkan sensasi terbakar dan sakit berdenyut pada tangan dan kaki.

Ketika seseorang hamil, pembekuan darah pada plasenta menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan janin. Wanita yang mengalami trombositemia (primer atau sekunder) yang mengkonsumsi pil KB dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah.

Pembekuan darah juga dipengaruhi oleh faktor lain berupa usia lanjut, diabetes, tekanan darah tinggi, merokok, dan pernah mengalami penggumpalan darah sebelumnya.

Perdarahan

Perdarahan juga dialami oleh orang-orang yang memiliki jumlah trombosit di atas 1 juta trombosit per mikroliter. Kondisi tersebut terjadi karena pembekuan darah yang terjadi pada trombositemia dan trombositosis yang dapat menghabiskan trombosit di dalam tubuh. Jika jumlah trombosit kurang atau habis, maka luka atau kerusakan pada dinding pembuluh darah tidak bisa ditutup.

Penyebab Trombositemia dan Trombositosis

Trombositosis primer bisa disebabkan oleh kelainan sumsum tulang belakang dimana kondisi tersebut dapat menghasilkan trombosit secara berlebihan.

Trombositosis sekunder disebabkan oleh kondisi medis atau faktor lain seperti:

  • Kekurangan zat besi.
  • Pendarahan.
  • Mengalami infeksi atau bakteri.
  • Kanker.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu.
  • Efek samping pembedahan.

Seseorang yang mengalami trombositemia disebabkan oleh jumlah trombosit yang berlebihan di dalam tubuh. Trombositemia juga sering dikaitkan dengan mutasi pada berbagai gen. Sama seperti trombositosis, kelainan sumsum tulang belakang dapat meningkatkan kadar trombosit. Peningkatan kadar tersebut juga dapat menimbulkan komplikasi berupa pembekuan atau perdarahan yang lebih serius.

Diagnosis Trombositemia dan Trombositosis

Dokter dapat melakukan diagnosis yang meliputi pemeriksaan darah dan pengambilan sampel sumsum tulang belakang pasien.

Cara Mengobati Trombositemia dan Trombositosis

Jika kondisi pasien stabil dan tidak disertai dengan gejala, pasien tidak perlu menggunakan obat-obatan. Namun, jika pasien mengalami ketidakteraturan pada jumlah trombosit, mereka dapat menggunakan obat-obatan seperti anagrelide dan interferon alfa.

Cara Mencegah Trombositemia dan Trombositosis

Pada dasarnya, pasien dapat mengurangi risiko ketidakteraturan trombosit dengan menerapkan pola hidup yang sehat seperti menjaga kadar kolesterol dan tekanan darah.

Kesimpulan

Trombositemia dan trombositosis merupakan kondisi yang menyebabkan ketidakteraturan jumlah trombosit dan perlu diwaspadai, karena dapat menimbulkan berbagai gejala pada tubuh. Meskipun demikian, Anda dapat melakukan cara-cara yang disebutkan di atas untuk mengatasi ketidakteraturan jumlah trombosit. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa tanyakan ke dokter tentang trombositemia dan trombositosis.

Cara Mengatasi Rambut Kemaluan Tumbuh ke Dalam

Merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan rambut yang tidak tumbuh ke luar lapisan kulit dinamakan dengan rambut tumbuh ke dalam. Kondisi ini bisa terjadi setelah rambut atau bulu di kulit dicukur atau dicabut, rambut yang tumbuh ke dalam juga kerap dialami pada orang dengan jenis rambut keriting atau sangat bergelombang (ikal).

Pada laki-laki, kondisi ini umumnya muncul di sekitar wajah yang ditumbuhi janggut sementara untuk perempuan di pangkal paha. Tak perlu khawatir jika mengalami keadaan ini, karena pada umumnya bisa membaik tanpa adanya perawatan khusus. Meski demikian, tidak sedikit orang yang mengeluh karena beberapa hal seperti gatal, mengganggu penampilan hingga memicu peradangan.

Mengatasi Rambut Tumbuh ke Dalam

Salah satu faktor yang memicu terjadinya kondisi ini adalah cara mencukur rambut dengan pisau cukur sambil meregangkan kulit dan mencabut rambut menggunakan pinset. Hal ini membuat sisa batang rambut tertinggal di bawah permukaan kulit, terdapat beberapa langkah mandiri di rumah yang bisa dilakukan untuk menangani kondisi tersebut, berikut di antaranya.

  • Bersihkan area rambut yang tumbuh ke dalam menggunakan sikat gigi dengan ujung lembut, kain lap atau scrub.
  • Lakukan gerakan memutar selama beberapa menit sebelum mencukur, bisa juga dilakukan dengan satu arah.
  • Bisa menggunakan jarum steril untuk dimasukkan secara tipis dan perlahan ke kulit, tujuannya mengangkat ujung rambut yang tumbuh di dalam kulit.
  • Dalam kondisi yang sudah menimbulkan peradangan, dokter akan meresepkan obat seperti krim dengan kandungan kortikosteroid.
  • Konsumsi antibiotik krim atau tablet, tujuannya untuk menangani infeksi yang muncul dan obat untuk membantu mengangkat sel kulit mati.
  • Hentikan pencukuran dan pencabutan hingga kondisi pulih, biasanya akan memakan waktu kurang lebih selama 6 bulan.
  • Jika memungkinkan pakai metode laser, namun pengobatan ini cenderung mempunyai komplikasi seperti tumbuhnya lepuh hingga perubahan warna kulit.

Pencegahan Mandiri

Pencegahan dulakukan dengan cara menghindari kegiatan yang memicu kondisi ini terjadi, beberapa tips di bawah ini bisa dilakukan untuk menurunkan kemungkinan munculnya rambut yang tumbuh ke dalam, berikut di antaranya.

  • Mencuci daerah kulit yang akan dilakukan pencukuran menggunakan air hangat, oleskan krim cukur atau gel sebelum memulai mencukur.
  • Pakai pisau cukur yang tajam setiap kali ingin melakukan pencukuran, hindari mencabut rambut ketika sedang dilakukan pencukuran.
  • Mencukur rambut sesuai dengan arah tumbuhnya rambut, setelah mencukur cuci pisau cukur sampai bersih.
  • Bersihkan kulit menggunakan air hangat dan pakai pelembab pada area yang dicukur setelah selesai melakukan pencukuran.

Terdapat beberapa penyebab yang membuat rambut justru tumbuh ke dalam, salah satunya rambut kemaluan yang memang lebih tebal, kasar dan cenderung keriting ketimbang rambut di bagian tubuh lainnya. Karena lebih tebal, cara mencukur yang salah atau terburu-buru justru berdampak buruk dan bahkan bisa menimbulkan iritasi, berikut beberapa penyebabnya.

  • Struktur dan arah tumbuh rambut, umumnya terjadi pada jenis rambut keriting dan ikal, folikel rambut yang melengkung menghasilkan rambut yang tidak tumbuh ke luar permukaan kulit.
  • Sel kulit mati yang menyumbat folikel, kondisi ini bisa memicu rambut tumbuh ke dalam karena tidak keluar menembus permukaan kulit justru mengarah ke samping.
  • Mencukur sambil menarik atau meregangkan kulit, hal ini bisa menyebabkan sisa batang rambut tenggelam ke bawah permukaan kulit.
  • Mencabut memakai pinset, atau waxing bisa meninggalkan sisa batang rambut di bawah permukaan kulit.
Mengenal Manfaat dan Bahaya Talc pada Bedak

Mengenal Manfaat dan Bahaya Talc pada Bedak

Talc atau talcum powder adalah bahan yang ada dalam produk kosmetik seperti bedak. Di antara berbagai manfaatnya, ada pula bahaya talc yang perlu diperhatikan.

Talc dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik karena bermanfaat menyerap kelembapan, mencegah terjadinya penggumpalan, hingga riasan wajah jadi merata.

Apakah Talc Aman Digunakan?

Talc sebagai bahan pembuat bedak tabur. Talc ini memang bahan mineral yang berasal dari dalam bumi yang didapat melalui proses penambangan. 

Akan tetapi, talc ini tentu saja berbeda dari bahan mineral lain karena merupakan bahan mineral tidak aktif. Artinya, talc tidak bisa menimbulkan reaksi kimia ketika terkena kulit. Itulah kenapa talc digunakan untuk membuat bedak. 

Beragam Manfaat Talc

Talc memang terkenal sebagai bahan baku kosmetik dan juga produk perawatan tubuh. Meskipun sebenarnya talc digunakan dalam berbagai industri.

Talc berbentuk bubuk bermanfaat menyerap kelembapan dan juga mengurangi adanya gesekan yang menjadi penyebab iritasi. Selain itu, berbagai manfaat talc yaitu:

  • Mencegah ruam karena gesekan pada kulit yang sensitif
  • Menjaga agar kulit tetap kering
  • Membantu mencegah kulit lecet

Talc juga bisa meredakan iritasi kulit lebih cepat sehingga mampu mengatasi eksim. Talc juga bermanfaat menjaga kulit di area lipatan yang biasanya lembap, seperti ketiak, area kelamin, dan lainnya.

Selain manfaat di atas, ada juga manfaat lain talc, yaitu:

  • Mempertebal maskara jika diaplikasikan pada bulu mata
  • Mencegah lecet di area lipatan ketika berolahraga
  • Membuat makeup lebih merata karena menyerap kelebihan minyak wajah
  • Talc menyerap bau tidak sedap
  • Talc juga bisa menyerap minyak di kulit kepala
  • Talc juga bisa membersihkan pasir dari permukaan kulit lebih cepat, tips ini bisa digunakan saat bermain di pantai
  • Talc juga bisa ditaburkan di permukaan sprei agar tempat tidur tetap kering dan dingin

Selain manfaatnya, ada pula bahaya talc yang perlu diperhatikan dan dihindari.

Bahaya Talc

Talc memang memiliki banyak manfaat, namun perhatikan juga bahaya talc bagi kesehatan tubuh. Apa saja?

  1. Meningkatkan Risiko Kanker

Dikhawatirkan adanya peningkatan risiko beberapa jenis kanker karena penggunaan talc. 

Misalnya penggunaan talc di area kemaluan bisa meningkatkan risiko mengalami kanker ovarium. Ataupun penggunaan talc di area kemaluan pada wanita yang sudah memasuki masa menopause yang disebut bisa meningkatkan risiko kanker endometrium. Serta, saluran pernapasan yang sering terpapar talc juga bisa meningkatkan risiko kanker paru-paru bila terhirup dalam jangka panjang.

Sejumlah penelitian memang menunjukkan hasil beragam. Ada yang menunjukkan kenaikan risiko kanker walaupun rendah, ada pula yang tidak menunjukkan kenaikan risiko.

Risiko kanker paru-paru ini hanya dialami oleh pekerja tambang atau orang yang terpapar talc sering atau jangka panjang. Sedangkan pada penggunaan talc kosmetik seperti bedak tabur tidak ada laporan risiko kanker.

Akan tetapi, perlu juga diwaspadai terkait penggunaan bedak tabur karena bisa mengganggu pernapasan, apalagi pada bayi. 

  1. Bisa Terkontaminasi Asbestos

Asbes atau asbestos adalah bahan mineral alami yang bersifat karsinogen yang bisa menyebabkan kanker. Bahkan, kandungan asbes ini bisa terbawa ketika menambang talc. Salah satu jenis kanker yang bisa terjadi karena asbes ini adalah kanker pada jaringan yang melapisi organ tubuh (mesothelioma).

Jadi, perhatikan ketika menggunakan talc pada bedak tabur. Meski bermanfaat, ada juga bahaya talc yang perlu dihindari.